RUANG PENGENDALI
KODE ADMIN
KATA KUNCI
LUPA KATA KUNCI
DAFTAR BARU
 
Nama :
Blog :
Pesan :
:) :( :D :p :(( :)) :x
<< April 2015 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30
banner
Anggota Dari:
Indonesian Muslim Blogger BlogFam Community blog-indonesia MyQuran kotasantri
Didukung Oleh:
Photobucket Blogdrive
superone Yahoo! Messenger: wawan_irn
Tamu Online :
sejak 30 Maret 2006
Terima kasih telah berkunjung
Semoga bermanfaat
asmaul husna

persahabatan

Pekan ini bener-bener melelahkan... mulai dari kerjaan yang ga beres, rencana yang amburadul sampe fisik yang ngedrop! huh, tapi hidup harus terus berjalan, semangat harus terus dipompa dan tidak boleh ada kata menyerah...

Yang lalu biarlah berlalu, kini tinggal pinter-pinter mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada, jangan sampe mengulang kesalahan yang sama. Menyesal juga ga ada artinya, hanya menambah beban di dada...

Tapi anehnya mengapa justru banyak yang minta maaf ke gue! Padahal jelas-jelas kesalahan ada di gue. Bukan maksud tuk menyalahkan diri sendiri sih, tapi jadi ga enak aja ma temen-temen yang ada disekitar gw seminggu ini jadi kebawa BT dan unjung-ujungnya doi minta maaf deh

Bagi gue persahabatan itu ga mengenal minta maaf, yang ada hanyalah memaafkan karena keindahan persahabatan bukan karena kita sudah saling mengenal tapi setelah kita saling mengerti dan mau berkorban satu sama lainnya.

Manusia memang tempatnya dosa dan khilaf, tetapi seorang sahabat yang baik ialah yang mau memaafkan sebelum sahabatnya meminta maaf. Yang terucap hanyalah nasehat bukan caci maki sehingga ia nyaman tuk mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi...

kapan yah sahabat sejatiku itu tiba, karena bagiku sahabat sejati hanya ada pada sosok istri yang sholehah...

Ya Allah,
Jika ia masih jauh maka dekatkanlah...
Jika ia dekat maka pertemukanlah denganku...
Jika ia benar jodohku, maka mudahkanlah...
tapi...
Jika memang bukan jodohku maka jodohkanlah ia pada diriku...
(hehehe kok jadi maksa gini)

just kidding!
hanya berusaha tuk menghibur diri sendiri

Posted by superone at March 6, 2009 |  sudah (3) komentar
Bikin SIM euy...

Hari sabtu kemaren, berbekal surat keterangan kesehatan dari dokter di DPR gue beranikan diri dateng ke kantor penerbitan SIM di Daan Mogot untuk mengurus pembuatan SIM yang sempat tertunda karena kehabisan formulir waktu gue mengurusnya di gedung DPR. Jadi, selama tiga hari sejak rabu sampe jum’at kemaren ada pelayanan pembuatan SIM komunitas di Gedung DPR. Hanya saja gue baru mengetahuinya di hari jum’at. Nah pas gue datang ke sana ternyata formulirnya udah abis.

Klo saja ga ada jaminan dari petugas yang ada di DPR mengenai biaya pembuatan SIM yang Cuma Rp. 75.000 plus Rp. 15.000 untuk asuransi gue juga ga bakal dateng ke Daan Mogot. Males aja gue berurusan dengan birokrasi, apalagi ini birokrasi kepolisisan. Udah bukan rahasia lagi kalo di sana banyak calo yang siap membantu kita tapi tentu saja dengan tambahan biaya yang selangit.

Pusat informasi menjadi tempat pertama yang gue datangi, maklum gue ga tau apa-apa mengenai prosedur pembuatan SIM. Oleh petugas yang ada di pusat informasi gue Cuma di beri informasi tempat pembelian formulir dan asuransi bagi pemohon SIM Baru dan diminta menemuinya lagi setelah mengisi formulir.

Setelah mengisi formulir gue pun kembali menemui petugas di pusat informasi. Setelah lapor kalo gue udah mengisi formulir petugas tadi menuliskan sesuatu di balik kertas surat kesehatan gue. Ternyata itu sebuah pesan agar gue menemui seseorang di salah satu loket yang ada di sana. Tanpa pikir panjang gue langsung menuju loket yang dimaksud. Setibanya di sana sudah bersiap seorang petugas yang menyambut gue dengan ramah. gue pun di minta masuk ke dalam ruangannya.

Dalam ruangan itulah negosiasi dimulai. Dengan penuh percaya diri dia menawarkan bantuan kepada gue, dia memberi jaminan, dalam 2 jam, SIM gue bisa jadi tanpa harus cape-cape mengikuti tes teori dan tes praktek. Wow... mendapat bantuan seperti itu siapa yang ga mau. Hanya saja terpaksa gue tolak karena ternyata UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Tiga ratus lima puluh ribu rupiah uang yang harus gue keluarkan demi bantuan tersebut. Wah firasat gue bakal dipersulit di tes teori tiba-tiba muncul nih. Iseng-iseng sambil menunggu antrian pendaftaran tes teori, gue ambil HP dan kirim SMS ke Traffic Management Center (TMC) Polisi melalui layanan SMS ke nomor 1717 melaporkan adanya petugas yang menwarkan bantuan pembuatan SIM tanpa tes. Lengkap dengan nama dan loket tempatnya bertugas. Akhirnya firasat gue terbukti. Gue dinyatakan ga lulus tes teori dan harus mengulang dua minggu kemudian. Nilai gue Cuma 17, kurang satu poin lagi untuk bisa lulus sesuai Undang-Undang.

Gue pikir perjuangan gue selesai sampai di situ dulu. Dua minggu lagi baru akan dimulai karena kesempatan kedua untuk mengikuti tes teori akan diberikan kepada gue. Ternyata gue salah. Sesampainya gue di kebon jeruk dalam perjalanan pulang, HP gue menjerit-jerit tanda ada orang yang menghubungi gue. Nomor tidak di kenal, males rasanya gue terima. Pengen cepet-cepet sampe rumah. Istirahat. Tapi tuh HP terus saja menjerit seakan tidak mau tau pemiliknya sudah terlalu lelah.
Ini mas wawan ya? Tanya suara di ujung telpon sana setelah mengucap salam
Ya. Jawab gue singkat
Mas wawan baru saja ngurus SIM kan? Suara yang disana masih saja bertanya
Ya memangnya kenapa” gue pun tak tahan untuk bertanya. Tapi sekarang saya dah di jalan mau pulang, lanjut saya tanpa menunggu jawaban
Memangnya mas wawan sudah sampe mana? Bisa balik lagi ga ke sini. Saya mau bantu mas wawan nih
Kurang ajar gumam gue dalam hati. Apa sudah sejauh ini calo-calo pembuat SIM mencari mangsa, “Memang bapak siapa? Kalo ujung-ujungnya duit makasih dah pak, saya ga butuh bantuan bapak”
Ternyata orang yang diujung telpon sana tidak menyerah begitu saja. Setelah dia memperkenalkan diri, dia terus saja merayu gue untuk balik lagi dan mau menerima bantuannya. Dia pun berjanji tidak akan meminta uang sedikitpun kepada gue. Tetapi anehnya dia tidak mau menjelaskan bantuan seperti apa yang dia tawarkan kepada gue.
Antara ragu dan penasaran, akhirnya gue memutuskan untuk balik lagi ke Daan Mogot. Niatnya sih pengen tau aja siapa sih orang yang menelpon gue barusan dan bantuan macam apa yang akan di tawarkan kepada gue. Soal SIM gue dah pasrah untuk mencobanya lagi sesuai prosedur yang berlaku.

Setelah memarkir motor, gue pun langsung menelpon ke nomor yang digunakan oleh penelpon tadi untuk menghubungi gue. Beberapa detik kemudian, 2 sosok tinggi besar menghampiri gue. Ternyata orang itu adalah yang menelpon gue dan yang satunya adalah salah satu pimpinan di kantor penerbitan SIM Daan Mogot. Bersama 2 orang orang itu, gue menuju sebuah ruangan yang ternyata ruangan para pimpinan kantor bekerja. Waduh... ada apa nih kok gue sampe di bawa ke sini, tanya gue dalam hati.
Gue coba menenangkan diri sambil mencoba untuk berpikir positif dengan segala kemungkinan yang terjadi di waktu-waktu yang akan gue alami sesaat lagi. bayangkan saja, saat itu gue dihadapkan pada 4 orang bertubuh tinggi besar dengan suara yang keras lagi tegas, hanya sedikit senyum dan berada dalam ruangan tertutup yang tidak terlalu luas

Satu persatu pertanyaan mulai ditujukan ke gue. Sebisa mungkin gue jawab dengan tenang dan singkat. Gue ga mau sampe salah ngomong yang berakibat fatal bagi gue. Terus terang gue deg-degan abis. Untunglah suasananya semakin mencair dan pertanyaan yang ditujukan ke gue mulai bisa gue pahami maksudnya.

Semua bersumber dari SMS laporan gue ke TMC. Walaupun pimpinan situ menyayangkan karena gue langsung melapor ke TMC tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke bagian pengaduan yang telah disediakan di sana beliau mengapresiasi kejujuran dan keberaninan gue untuk melapor. Atas informasi yang gue berikan gue pun mendapat hadiah dari beliau. Gue diberi kesempatan untuk mengikuti tes teori sekali lagi saat itu juga. Tapi sayang nilai gue 17 lagi. Namun sepertinya itu hanya formalitas saja karena setelah itu gue diminta untuk tes praktek. Lagi-lagi gue gagal karena menjatuhkan tiga pembatas. Seakan tidak peduli dengan hasil tes praktek yang gue jalani, gue pun di ajak ke ruangan untuk foto dan tanda tangan sebagai bagian akhir dari proses pembuatan SIM. Setelah itu gue dituntun untuk kembali lagi ke ruangan pimpinan. Disanalah gue menerima SIM atas nama Wawan Irawan dengan foto gue terpampang didalamnya.

Walaupun badan sudah 4L (lelah, letih, lesu dan Laper) namun gue bahagia. Karena Allah masih melindungi gue. Gue yakin keberhasilan gue mendapatkan SIM tidak terlepas dari pertolongan Allah yang memberikan gue Hidayah untuk segera melaporkan praktek pencaloan yang gue ketahui.

Kalo mendengar pengalaman temen yang sudah memiliki SIM, tidak sedikit dari mereka yang awalnya sangat idealis ingin mengurus SIM sesuai prosedur akhirnya harus mengeluarkan uang lebih juga untuk para calo. Satu hal yang salah mereka sikapi saat mengurus SIM adalah ketika mereka sadar bahwa praktek calo dalam pembuatan SIM adalah pelanggaran, mereka tidak melaporkannya. Mereka justru membiarkannya dengan anggapan itu adalah sesuatu yang wajar bahkan lebih parah lagi mereka justru memanfaatkannya dengan berbagai alasan yang sebenarnya terlalu mudah untuk dibantah.

Posted by superone at December 16, 2008 |  tulis komentar dong..
Ibu Ita, Sosok Pemerhati Anak Yatim

Berawal dari kepekaan seorang guru SD yang melihat muridnya tidak lagi mampu untuk meneruskan pendidikan dikarenakan faktor biaya. Hosrita Yusda, sang guru tersebut mulai mencarikan beasiswa bagi murid-muridnya yang berprestasi serta anak-anak yatim yang bersekolah di tempatnya mengajar. Mulai dari bergerilia mendatangi orangtua siswa yang tergolong kaya raya sampai door to door “menodong” teman-temannya, dia lakukan untuk mengumpulkan lembaran demi lembaran rupiah guna membantu murid-muridnya yang terancam putus sekolah. Tidak sampai di situ saja, instansi-instansi pemerintah maupun swasta pun dijajaki guna mencari peluang beasiswa bagi murid-muridnya.

Alhamdulillah Allah membuka jalan. Seiring waktu yang berlalu, orang tua siswa dan teman-teman ibu ita, sapaan akrab ibu Hosrita Yusda, yang sejak awal telah membantu, semakin percaya dan simpati dengan gerak langkah ibu Ita. Satu persatu dari mereka pun menyatakan diri siap menjadi donatur bagi perjuangan Ibu Ita.

Seperti air yang mengalir, jumlah anak yatim yang awalnya hanya 10 orang kini terus bertambah. Tidak hanya terbatas dari sekolah tempat beliau mengajar, anak-anak yatim yang berada di sekitar tempat tinggalnya pun mulai mendapat bantuannya. Bahkan anak-anak dari kelompok pemilah barang bekas (KPB2/Pemulung) juga mendapat perhatiannya. Berkat usahanya, anak-anak KPB2 mulai mau bersekolah.

Seiring dengan jumlah anak yatim, dhuafa dan KPB2 yang di asuhnya terus bertambah serta kesadaran ibu ita akan pentingnya ilmu, beliau pun mulai merekrut teman-temannya untuk menjadi relawan bersama beliau guna membina dan mendidik anak-anak asuhnya. Puncaknya pada tahun 2004, dimotori oleh bapak Djanusa, suami ibu ita, didirikanlah sebuah yayasan yatim piatu non panti yang menjadi wadah perjuangan ibu ita dan teman-temannya untuk terus membina dan mendidik anak-anak yatim, dhu’afa dan KPB2. Rumah beliau didaulat menjadi sekretariat dan pusat kegiatan yayasan. Ruang tamu menjadi sekretariat dan halaman rumahnya hanya berukuran 6 x 6 m disulap menjadi tempat pembinaan dan anak-anak asuhnya belajar.

Perjuangan yang ia mulai sejak tahun 1998 hingga kini terus berjalan, yayasan yang ia pimpin juga terus berkembang. Hanya saja separuh dari nafasnya kini telah pergi. Sang suami yang siang dan malam menjadi tempat peraduannya ketika lelah, tempat berbagi ketika bahagia, dan aktor dibalik semangat dan kerja keras Ibu Ita kini telah berpulang ke rahmatullah. Semoga Amal Ibadah Almarhum di terima oleh Allah dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Amin...

Ibu Ita, Ayo kita teruskan perjuangan ini. Kami siap membantu dengan segala apa yang kami miliki. Semoga Allah ridho dengan setiap langkah kita untuk terus berbagi dengan mereka yang kurang mampu.

Untuk para pengunjung blog ini, kami tunggu uluran tangan anda!


Yayasan Kasih Ibu La Tansa
Jl. H. Mukhtar Raya Rt.10/01 No.44
Petukangan Utara. Jakarta Selatan
Telp. 5863424, 021 70739300


Posted by superone at November 17, 2008 |  tulis komentar dong..

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Next Page