Segala sesuatu ada permulaannya dan setiap permulaan selalu sulit untuk dilakukan. Bener ga sih pepatahnya seperti ini ??? kalo salah tolong di koreksi ya…
Mendengar pepatah ini gue jadi teringat dengan masa-masa awal ketika gue tertarik dengan dunia penulisan. waktu itu gue pengen banget punya tulisan yang bisa gue publikasiin, tapi gue ga berani. Waktu itu kan gue spesialis buku harian, itu pun isinya ga penting buanget, curahan hati semua. Apalagi hampir semuanya berwarna ‘merah jambu’ hee… jadi malu. Namun seiring waktu berjalan, keinginan untuk mempublikasikan hasil karya sendiri semakin mantab, apa lagi setelah gue bergabung dengan redaktur buletin jum’at yang dikelola oleh rohis SMU. Namun semua itu tanpa pernah diiringi dengan kemajuan gue dalam teknik penulisan, sehingga gue sampe stress sendiri.
Hingga suatu hari gue terkagum-kagum dengan sebuah cerpen. Ceritanya sangat sederhana namun mampu menusuk ke jantung gue, yaitu cerita tentang seorang siswa yang tertangkap basah sedang mencontek ketika ujian akhir nasional. Soalnya belum lama itu gue nyontek, bedanya gue ga ketahuan. He.. he…
Menyadari semua itu, gue ingin sekali menebus kesalahan gue dengan cara mempublikasikan cerpen ini melalui bulletin jum’at, mudah-mudahan temen-temen gue yang pernah nyontek juga sadar seperti gue.
Dengan semangat 45, cerpen itupun gue tulis ulang dengan tangan gue sendiri plus nama gue di akhir cerpen. Tahu doang tujuannya? yup! biar cerpen itu dianggap karya gue. Alhamdulillah niat itu tidak pernah terwujud. Karena gue tidak ingin terjebak dengan jalan pintas yang di tunjukkan syetan demi mewujudkan keinginan gue mempublikasikan karya gue sendiri. Akhirnya gue pun memutuskan untuk menundanya sampai bisa membuat cerpen yang seperti itu, walaupun mungkin ide dan alurnya sama.
Setelah mencoba berulang-ulang, ternyata gue tidak bisa terlepas dari bayang-bayang cerpen tersebut. Hingga akhirnya gue berhenti untuk mencoba lagi. Bahkan gue menjadi phobia ketika hendak menulis dengan tema yang ternyata sudah pernah di tulis dan dipublikasikan oleh orang lain, apalagi penulisnya adalah penulis terkenal. Gue takut banget dibilang membajak tulisan orang lain. Buntut dari semua itu, gue jadi terpuruk pada jurang ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri alias ga PD.
Kepercayaan diri gue berangsur-angsur tumbuh kembali setelah tulisan gue yang berjudul
embun pagi dipublikasikan di bulletin jum’at. Walaupun sejujurnya tulisan itu hanyalah rangkuman dari beberapa artikel yang gue baca dari berbagai sumber, yang kemudian gue tulis ulang berdasarkan suasana hati gue saat itu. Bagi gue tulisan itu sangat istimewa karena gue belum bisa lagi menulis dengan gaya seperti itu.
Dan semenjak itu gue mulai menemukan kembali kenikmatan ketika menulis. Gue mulai bisa terbebas dari bayang-bayang para penulis yang karyanya secara tidak langsung mempengaruhi gaya penulisan gue. Karena memang hingga saat ini gue masih menggunakan trik yang gue namakan
ATM singkatan dari Amati, Tiru dan Modifikasi.
Gue cukup nyaman dengan trik ini, walaupun demikian gue tetap berusaha memodifikasinya dengan sudut pandang gue secara pribadi sehingga sentuhan gue tetap terlihat menonjol dibandingkan dengan karya aslinya.
Begitupun dengan hal meniru. Gue berusaha sebisa mungkin agar terhindar dari yang namanya plagiat alias menjiplak. Gue hanya akan meniru sebatas ide, kerangka atau cara dan teknik penulisannya.
Semua ini gue lakukan tidak lebih sebagai cara gue dalam melatih teknik penulisan, hingga akhirnya gue punya gaya sendiri. Bukankan william slinzer pernah menyarankan kepada kita untuk tidak pernah ragu meniru penulis lain, karena setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model.
Itulah sebabnya hingga saat ini gue belum pernah mengirimkan tulisan gue ke media mana pun. Cerpen
sebuah peringatan yang berhasil masuk majalah sabili juga tidak lebih dari niat baik seorang teman yang menunjukkan blog ini ke kakaknya yang ternyata seorang editor. Nah melalui tangan dialah cerpen
akhir yang indah di sempurnakan menjadi sebuah peringatan yang tidak lain adalah hasil daur ulang dari cerpen yang telah berhasil mengingatkan gue tentang masalah contek-mencontek .
Yang terakhir, tidak ada salahnya meniru lho… yang salah itu menjiplak! Bukankah kita hidup di dunia ini dengan meniru rasulullah. Bukankah kita semua bisa seperti ini karena sejak bayi suka meniru orang-orang yang ada di sekitar kita.
walaupun demikian dalam hal karya cipta jangan asal copy paste dong! apalagi sampai menjiplak. Itu mah namanya pembajakan!