Andai kutahu, kapan tiba ajalku
Ku akan memohon, Tuhan tolong panjangkan umurku
Andai kutahu, kapan tiba masaku
Ku akan memohon, Tuhan jangan Kau ambil nyawaku
Andai kutahu, malaikat-Mu kan menjemputku
Izinkan aku, mengucap kata tobat pada Mu
(
Ungu,
andai kutahu)
Pertama kali mendengar lagu tersebut gua ga tahu siapa penyanyinya, tapi gue merasa ada sentuhan yang membuat hati ini bergetar. Apalagi memang lagu itu gue dengar dalam acara dengan suasana yang memang dimaksudkan untuk itu.
Kini, gue sudah tidak asing lagi dengan lagu itu. Bahkan diantara lagu nasyid dan murottal yang tersimpan di MP3 gue, sengaja gue selipkan lagu tersebut. Walaupun demikian, hingga saat ini gue tidak hafal dengan syairnya. Sehingga gue sangat terkejut ketika seorang teman mengomentari lagu ini.
“Nadanya sih gue suka, tapi syairnya salah! Udah tahu kapan mati, bukannya bertobat terus beribadah sebaik mungkin eh malah minta dipanjangkan umurnya bahkan minta jangan diambil nyawanya lagi. Konyol kan?”
Mendengar komentarnya, gue jusru teringat dengan salah satu sinetron
cookies yang berjudul
deadline cinta. Sinetron 5 episode yang diputar di
sctv setiap hari senin-jum’at pukul 18.00 dan di putar ulang pada sabtu dan minggu pukul 13.00 itu mengisahkan siswi SMU pengidap kanker stadium 4 yang selalu gonta-ganti pacar. Wajahnya yang cantik membuatnya tidak kesulitan untuk mendapatkan seorang cowok untuk dipacari tidak lebih dari seminggu. Mengenai penyakitnya ini, tidak seorang pun yang mengetahuinya termasuk bibi yang tinggal bersamanya. Apalagi orang tuanya yang memang tinggal di luar negeri. Dokter yang merawatnya tidak pernah bisa membujuknya agar mau dirawat secara intensif, hingga pacarnya yang terakhir melihatnya pingsan dan membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit itulah pacarnya menasehatinya yang hampir putus asa, “umurmu memang tidak lama lagi, tapi jangan kau sia-siakan. Manfaatkan waktumu itu untuk mengejar cita-citamu” siswi itupun tersenyum dan ingin segera sembuh agar bisa mewujudkan cita-citanya, yaitu melihat pacarnya konser di acara pentas seni sekolah.
Sesempit itukah pemikiran remaja kita? ketika sadar ajal kan menjemput, bukannya berpikir untuk kehidupan akhiratnya, eh malah mikirin dunia yang fana ini. ingin bertahan hidup cuma untuk nonton pentas seni.
astaghfirullah.
saudaraku, Apakah kita tidak pernah berpikir bahwa kehidupan yang sesunguhnya bukanlah di dunia ini. Kalau boleh mengibaratkan, dunia ini hanyalah rumah singgah tempat kita menyiapkan perbekalan. Perbekalan yang akan kita pergunakan dalam perjalanan yang sangat panjang menuju surga-Nya. Kalau kita sadar akan semua itu, mengapa hidup kita yang singkat ini tidak kita pergunakan sebaik mungkin. Memanfaatkannya untuk meraih cita-cita kita; hidup bahagia di dunia dan akhirat, bertemu dengan Allah dan Rasulnya di Surga-Nya.
Kalau memang itu cita-cita kita, tipsnya ungu bukanlah pilihan yang patut untuk di coba, namun amalkanlah pesan Rasulullah berikut ini :
Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup untuk selamanya dan beribadahlah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok.
So, kalo mo tobat jangan tunggu malaikat datang menjemput. Tapi bertobatlah mulai detik ini juga dan sesegara mungkin persiapkan kematianmu agar tidak
su’ul khotimah sehingga tidak perlu lagi memohon dipanjangkan umur apalagi sampai memohon jangan ambil nyawa kita. nanti dibalikin lho sama izroil.
Mang yang kemaren ga cukup. Mo nambah berapa tahun lagi? 100, 200 atau 1000? Sorry la yau.