RUANG PENGENDALI
KODE ADMIN
KATA KUNCI
LUPA KATA KUNCI
DAFTAR BARU
 
Nama :
Blog :
Pesan :
:) :( :D :p :(( :)) :x
<< February 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28
banner
Anggota Dari:
Indonesian Muslim Blogger BlogFam Community blog-indonesia MyQuran kotasantri
Didukung Oleh:
Photobucket Blogdrive
superone Yahoo! Messenger: wawan_irn
Tamu Online :
sejak 30 Maret 2006
Terima kasih telah berkunjung
Semoga bermanfaat
asmaul husna

kesucian pernikahan yang ternoda

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Dua minggu lebih kita tidak bersua, apa kabar nih? Semoga baik-baik aja dan tetap setia mengunjugi blog gue ya...
Maaf nih, kali ini gue cuma ingin curhat tentang apa yang gue alami di awal februari ini. Agak panjang sih, tapi teman-teman kan hobby baca. Jadi udah biasa kan?

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. 4:48)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6)

Biar tekor asal kesohor, ternyata bukan sekedar anekdot belaka. Tetapi sudah menjadi semboyan hidup bagi sebagaian besar orang-orang betawi. Dan gue sebagai anak betawi yang masih memiliki keluarga besar sangat merasakan itu, termasuk dalam pelaksanaan resepsi pernikahan adik gue yang berlangsung tanggal 1 Februari kemarin. Inilah awal mula permasalahan itu.

Bukan tanpa antisipasi. sejak gue menyadari hubungan adik gue dengan pacarnya semakin dekat, gue sudah mulai membuka wacana pernikahan, terutama kepada ibu dan adik gue. Hasilnya ibu dan adik gue setuju untuk mempercepat pernikahan dan pelaksanaan resepsi selama satu hari. Ini pun cukup berat, karena umumnya resepsi berlangsung selama dua hari dua malam dengan hiburan layar tancap di malam pertama dan orkes dangdut dimalam kedua atau salah satunya saja. Serta keengganan adik gue untuk melangkahi gue dan kakak perempuan gue.

Pengalaman gue dua kali menjadi panitia pernikahan ternyata tidak cukup meyakinkan adik gue dan pacarnya untuk mengurus pernikahannya. Bahkan ibu gue menolaknya mentah-mentah. Inilah awal “malapetaka” itu.

Persetujuan mereka dengan resepsi satu hari (+ satu malam) ternyata bukan atas dasar keinginan untuk menekan biaya, tetapi lebih pada rasa lelah dan capek yang akan ditimbulkan. Sehingga semua itu tidak mengubah biaya secara signifikan. untuk biaya tenda, taman pelaminan, rias pengantin, makanan dan minuman tetap sama. Hanya hiburan saja yang bisa di tekan, karena kami hanya memanggil dua tim marawis, untuk siang dan malam. tetapi itu semua sudah cukup untuk menembus angka 10 juta. Belum lagi biaya lain-lainnya seperti cetak undangan dan dokumentasi. Adik gue minta dalam bentuk foto dan film.

Biaya belasan juta itu, semuanya menjadi tanggungan keluarga gue karena resepsi diadakan di rumah kami. Itulah kesepakatan tidak tertulis yang sudah berlangsung sejak dulu. Dan sebagai gantinya pihak pria menyerahkan uang untuk membeli satu set perlengkapan untuk kamar penganten seperti kasur, lemari dan kawan-kawannya. Hanya saja, jangankan uang belasan juta, satu juta rupiah saja saat itu kami sedang tidak punya. Di saat inilah keluarga besar terasa sekali manfaatnya. Pinjaman lunak tanpa bunga dari mereka menjadi andalan, tentu dengan harapan bisa tertutup dari uang kondangan para tamu. Ini ternyata sudah menjadi rahasia umum, sehingga keluarga besar tidak merasa berat untuk memberi pinjaman bahkan tukang tenda pun menawarkan dan rela di bayar setelah acara resepsi selesai.

Rencana tinggal rencana. Dua hari berturut-turut menjelang hari-H pernikahan adik gue, hujan turun dengan deras. Semua orang mulai berpekulasi dengan rahmat Allah yang satu ini, hingga akhirnya keluarga besar gue sepakat. Pagi-pagi buta di hari-H, gue didaulat untuk mengunjungi makam bapak dan kedua kakek gue. Tujuannya cuma satu. mohon izin dan do’a restu. Segala usaha gue lakukan untuk menolaknya. Tapi apa daya, kalo gue menolak tetap saja akan ada yang melakukannya. Akhirnya gue putuskan pergi juga. Tentu dengan niat yang berbeda; menyendiri sambil memohon ampunan dan lindungan dari Allah. Waktu yang tepat untuk menghirup udara segar dan menjernihkan pikiran. Sebotol air mineral menjadi bekal gue, tapi tunggu dulu itu bukan untuk diminum, tetapi untuk dituang diperempatan jalan, katanya sih untuk mengundang tamu, biar lancar. Buang sial lebih tepatnya. Tanpa perlawanan sedikit pun gue menerimanya langsung dari tangan ibu gue. Dan pesannya juga gue lakukan. Walau hati ini terus meronta.

Sepulang dari makam, gue dikejutkan dengan ulah perias pengantin yang datang tidak lama berselang dengan gue, “sesajen buat kamar penganten sudah disiapkan belum?” tanyanya enteng.
“Sudah” jawab salah seorang keluarga besar gue.
Perias pengantin lalu masuk kamar untuk memulai tugasnya. Adik gue dan calon suaminya sudah menunggu di dalam bersama ibu gue. Entah sejak kapan mereka ada di sana.
Sesajen? sungguh gue tidak pernah mengira kalau kamar pengantin pun harus diberi sesajen. Tapi belum juga selesai gue berpikir, ibu gue sudah mendekati dan meminta uang sebesar seratus ribu rupiah ke gue, ibu memang dilarang memegang uang sepeser pun sejak kemarin. Seperti kerbau dicocok hidungnya gue segera mengambil uang dari saku celana dan menyerahkannya.
"Emang untuk apaan Mak?" tanya gue heran, karena uang itu diserahkan ke perias penganten.
“Untuk diduduki sama pengantin wanita, biar wajahnya cerah dan bersinar,” Jawab perias pengantin mendahului ibu gue yang juga sudah siap ingin menjawab.
Tanpa berlama-lama gue tinggalkan mereka menuju kamar untuk ganti baju, bersiap ikut rombongan ke KUA. Peran gue kali ini sangat sentral, yaitu menjadi wali nikah. Di dalam kamar, dada terus bergemuruh dan kepala mulai mendidih. Kucoba tenangkan hati dengan banyak-banyak mengucap istighfar memohon ampun kepada Allah.

Bumi terus berputar dan waktu terus berjalan. Alhamdulillah akad nikah berjalan dengan lancar. Tidak ada halangan yang berarti selain banjir yang menggenangi pintu masuk ke KUA.

Sepulang dari KUA, hujan kembali turun dengan deras. Keluarga besar mulai panik karena hujan semakin deras menjelang siang. Tentangan gue yang tidak setuju menggunakan jasa pawang hujan tidak ada artinya lagi ketika semua orang terlihat sangat peduli ingin membantu. Semua mitos yang dianggap dapat menghentikan hujan satu per satu di coba. Anehnya semuanya tidak ada yang masuk akal, dari menyebar cabe rawit, melempar celana dalam ke atap, hingga meminta seorang perjaka untuk membuat tabunan. Bahkan upacara pemotongan ayam jago yang masih muda pun di lakukan. Tidak ada seorang pun yang merasa heran dan berusaha untuk bertanya. Termasuk gue yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa atas hal-hal yang lebih dekat kepada syirik tersebut.

Ketika hujan belum juga reda, semua menjadi sok berkuasa seakan Allah tidak pernah ada. Dengan PD-nya dia menjanjikan hujan akan berhenti setelah zuhur. Setelah zuhur hujan memang berhenti. Dia pun mulai menyombongkan diri, namun Allah punya rencana. Ketika mulut sang pawang belum berhenti berucap. Hujan deras kembali turun. Allahu Akbar..

Ketidakberdayaan sang pawang melawan kehendak-Nya cukup membuat gue tersenyum, walaupun itu tidak belangsung lama. Seiring waktu yang terus berlalu, semakin banyak saja jenis sesajen yang dipersembahkan, belum termasuk sesajen yang memang sudah di berikan maupun diletakkan di beberapa sudut rumah sejak kemarin. Namun apa daya. Iman gue semakin terpuruk, hingga posisi yang paling lemah. Mendiamkan segala kemaksiatan yang ada di sekeliling gue tanpa upaya sedikitpun untuk mencegahnya selain berdo’a dalam hati.

Di tengah-tengah kegersangan hati dan kegalauan jiwa yang semakin meradang, gue cuma bisa menyerahkan semuanya ke pada Allah SWT, apalagi permintaan tausyiah melalui sms yang gue kirim kepada beberapa teman tidak mendapat balasan. Di saat yang bersamaan, gue di tuntut untuk terus tersenyum dan bersikap ramah kepada para tamu yang hadir. Kedudukan gue sebagai anak laki tertua menuntut diri ini menjadi wakil keluarga besar untuk menjamu setiap tamu laki-laki yang hampir semuanya berstatus orang tua.

Kini, setelah dua minggu berlalu, kegelisahan itu belum sepenuhnya hilang, apalagi kami masih menyisakan hutang, sedangkan uang pribadi gue untuk membayar skripsi pun ikut ludes. Syukurlah, seminggu ini gue mendapatkan beberapa job tak terduga yang hasilnya cukup untuk membayar perpanjangan skripsi gue satu semester ke depan. Selain itu kesibukan gue akibat job-job tersebut dapat sedikit membangkitkan kembali semangat hidup gue.

Pengalaman gue kali ini benar-benar menjadi guru yang terbaik karena cepat atau lambat situasi seperti itu akan gue alami lagi, yaitu ketika kakak perempuan gue menikah. Mudah-mudahan beliau mendapat jodoh pria yang sholeh, yang hanya takut dan cinta kepada Allah. Sehingga beban itu bisa sedikit berkurang.

Posted by superone at February 14, 2007 | 

pandri
February 23, 2007   11:38 AM PST
 
yang penting udah usaha dan berdoa wan, kapan nyusul?
wawan
February 15, 2007   02:03 PM PST
 
makasih uty. bukan cuma uty aja kok yang ga diundang. wawan mang ga ngundang-ngundang . nati aja deh kalo ane yang walimahan. jangankan uty, siapa pun boleh dateng kok...
uty
February 15, 2007   12:36 PM PST
 
pada dasarnya memang susuah hidup diantara pemikiran 'n budaya yang seolah sudah berakar kuat sehingga menjadi pandangan yang "SAH".. ya, tepi harus diakui itu benar2 syirik apapun alasannya.
memberikan pengertian yang benar memang tidak mudah apalagi jika kedudukan qta hanya "anak baru kemarin" dibanding orang2 tua but menyeru dan mengingatkan adalah hal yg mutlak harus dilakukan bagaimanapun respon yang akan diterima. Jika semua cara sudah ditempuh secara optimal, ya usaha terakhir adalah berdo'a.
SELAMAT YA UTK KELUARGA BESAR WAWAN... tapi ko' gak ngundang aq ya????
wawan
February 15, 2007   12:11 PM PST
 
alhamdulillah baik. adik kelas? siapa ya..?
kok malu nulis namanya? btw makasih ya...
Name
February 15, 2007   10:02 AM PST
 
Ass, pa kbr k wawan? Smoga masih ingat saya, kita 1 SMA tapi sy adik kelas kk. Wah, gak nyangka mitos2 itu masih ada yaa.... Pasti berat untuk menjalaninnya, jika saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan smoga kedepan dapat berubah, mungkin Allah ingin kita belajar dari kejadian tersebut. Dan tentunya semua yang terjadi pasti ada maknanya.. Smoga ketika pernikahan kk sendiri,hal itu tidak terjadi... Amien

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Previous Entry Home Next Entry