Belakangan ini kemalasan mendera diri, memporak-porandakan semangat. Seketika saja teringat sudah terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Semester ganjil hampir usai namun skripsi belum juga beranjak dari bab ‘niat’. Malas lagi untuk baca-baca atau sekedar duduk didepan komputer sambil menggerakkan jari-jari di atas keyboard.
Awal tahun ini rasanya harus buat planning baru. Fokus untuk menyelesaikan skripsi, scheduling ulang kegiatan-kegiatan di luar kampus yang sejak semester lalu telah menghabiskan sebagian besar waktu gue dan menggantinya dengan duduk berlama-lama di perpustakaan dengan tumpukan buku atau berkutat dengan angka-angka dan simbol-simbol matematika yang lebih mirip dengan rambut gue yang kriting.
Belum lagi dengan perencanaan angaran pendapatan dan belanja pribadi yang rasanya sudah tidak mungkin lagi meminta subsidi dari orang tua untuk menambal beberapa kekurangan yang memang masih sering gue alami. Untuk yang satu ini bukan cuma mencari sumber pemasukan baru namun perlu juga diimbangi dengan gerakan hemat nasional yang mungkin akan sangat berdampak dengan blog ini. fasilitas internet yang sempat gue terima semerter ganjil kemarin akan berakhir seiring dengan berakhirnya tugas gue sebagai asisten untuk mata kuliah teknologi informasi akhir semester ganjil ini.
Untuk itu mohon do’anya ya…
Air hujan turun membasahi bukit. Ia mengalir melintasi tebing dan cerukan sempit. Sesekali menabrak batu dan akar pohon yang menjuntai. Membawa bersama partikel hidrogen dan oksigen. Menyelisihi daun kering yang jatuh ke bumi sambil berbisik, “Aku akan membuatmu segar kembali setelah angin dan waktu membuatmu letih.”. Ia terus mengalir dan mengalir hingga bertemu “kawan” lain. Membentuk aliran ke hilir hingga menjadi sungai yang mengalir ke laut.
Dengan segala kerendahan hati untuk terus mengalir ke tempat yang lebih rendah, air telah menghidupkan bumi setelah kering. Membasuh dan membawa harapan baru untuk segenap mahluk. Dalam keadaan ini sang sumber kehidupan memiliki kelembutan dan kekuatan sekaligus. Sang Pencipta Tertinggi telah memberinya kekuatan untuk bergerak menerobos celah sempit, meluncur jatuh, membentuk aliran sungai, atau tetap diam di atas bumi dan menjadi danau.
Dengan hanya tetesan, ia mampu melubangi batu dan memecahnya. Meski
memakan waktu yang tidak sebentar. Namun sekeras apapun batu itu ia
tetap bisa melakukannya. Bermula dari setetes saja. Terus menerus. Setetes
demi setetes. Hingga batu berlubang, retak dan terbelah. Saat tetesan
berhenti, batu tak lagi tertandai.
Namun sayang, tidak semua air sanggup untuk terus mengalir menuju tempat yang lebih rendah lagi. Sebagian dari mereka ada yang berhenti mengalir dan menggenangi bumi hingga akhirnya menguap tersengat mentari. Bersama ‘kawan’ yang juga tidak tahan menerima panasnya matahari mereka berkumpul dan menjadi awan yang dengan angkuhnya terus bergerak ke atas. Semakin lama semakin tinggi. ”lihat aku kawan, kini aku berada di atas. tidak ada yang lebih tinggi dariku dan aku akan terus terbang hingga semakin tingi dan tinggi lagi” teriak awan kepada air yang tetap setia mengairi bumi. Awan lupa kalau ia juga berasal dari air.
Kumpulan awan semakin besar, kesombongannya semakin menjadi. Ia terus terbang mencapai puncak ketinggiannya. angin yang sedang bertiup sepoi merasa jenuh juga, ia mulai tidak suka pada kesombongan awan. Dengan ramah angin coba mengusirnya, awan-awan itu memang menjauh, tetapi mereka kini bersatu membentuk kumpulan awan yang lebih besar. Angin pun jengkel. Dengan kekuatannya, angin coba mempermainkan awan kesana-kemari. Berhasil. Awan terombang-ambing tidak menentu, Namun itu tidak berlangsung lama. Awan berhasil mengumpulkan kawan-kawannya untuk membentuk kumpulan awan yang lebih besar lagi. Angin terus berusaha mengeluarkan kekuatannya.
Setelah merasa cukup besar, awan mulai unjuk kekuatan. Secara perlahan tubuhnya yang putih dan lembut mulai menghitam dan semakin kelam. kilatan petir mulai keluar dari tubuhnya akibat tersentuh kumpulan awan yang lain. Angin tidak tinggal diam. Ia coba menambah kekuatan. Awan terus di dorong menuju pegunungan. Awan merasa tidak senang. Kilatan petir dari tubuhnya semakin kuat. Tidak hanya sambarannya yang menghanguskan bumi, teriakannya pun memecah gendang telinga. Pertarungan awan dan angin berlangsung agak lama. Bumi menjadi gelap gulita karena matahari tidak mampu menembus sang awan yang sedang dilanda amarah.
Kesombongan awan ternyata tidak mampu melayani kekuatan angin. Perlahan namun pasti. Butiran air yang berkumpul menjadi awan mulai terpecah. Setetes demi setetes butiran air itu kembali ke bumi meninggalkan kumpulan awan yang masih saja mengamuk dengan petirnya. Semakin lama semakin besar gerombolan air yang meninggalkan awan. Hujan turun dengan lebat mengguyur bumi.
Melihat angin yang tidak mengurangi kekuatannya. Awan semakin pucat. Warna hitamnya mulai memudar. Awan mengakui kekalahannya. Ia pun kembali menjadi air yang dengan segala kerendahan hatinya akan berusaha terus mengalir mencari tempat yang lebih rendah lagi untuk membawa kesejukan di muka bumi.
Angin telah tenang dan kembali membantu air dengan meniupkan kesejukan ke seluruh permukaan bumi. Dengan bantuan matahari, awan coba menebus kesalahannya. Butiran air yang belum sampai ke bumi coba menghias langit dengan warna-warni indah pelangi. Bumi tersenyum menyambut kembali rasa damai yang di bawa oleh awan yang telah kembali menjadi air.
Para wartawan pernah dibuat terheran-heran oleh Sir Edmun Hillary ketika mereka coba menyelidiki sesuatu yang paling ditakuti oleh penakluk pertama Mount Everest itu. Dalam sebuah wawancara, hillary mengatakan bahwa ia tidak pernah takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun!
“Lalu apa yang anda takuti?” buru seorang wartawan
“sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki” jawab Hillary singkat.
” why?”
” Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lalu membusuk. Tanpa sadar kaki pun tidak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.” lanjut sang penjelajah mengobati rasa penasaran para wartawan.
Hillary tidak pernah takut pada harimau atau binatang buas lainnya karena secara naluriaih binatang buas sebenarnya takut menghadapi manusia. Sedang untuk menghadapi jurang terjal, gunung es, atau padang pasir, seorang penjelajah pasti sudah punya persiapan yang memadai. Tetapi jika menghadapai sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Bahkan cenderung mengabaikannya.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh hillary tentang para penjelajah itu tidak jauh berbeda dengan kita yang sering mengabaikan dosa kecil. Coba saja kita renungkan, berdusta, berburuk sangka, ghibah atau perbuatan tercela lainnya sering kali kita anggap sepele hingga tanpa sadar kita menjadi ‘keterusan’ melakukan dosa-dosa kecil itu yang lambat laun akhirnya penjadi kebiasaan. Dosa kecil itupun akan menjadi dosa besar yang pada akhirnya akan merugikan diri pribadi dan lingkungan.
Oleh karena itulah, Nabi Muhammad SAW sangat meanti-wanti kita untuk tidak mengabaikan dosa-dosa kecil seraya melarang kita melupakan amal kebaikan walaupun itu juga kecil. Sesungguhnya tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan taubat nasuha.
bukankah kisah sufi pernah menceritakan bahwa seorang pelacur pun masuk surga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatan yang cenderung dinilai sangat kecil ternyata di mata Allah punya nilai besar karena faktor keikhlasannya. Itulah nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur pada anjing yang kehausan.
Terlepas dari dagingnya yang haram atau pun liurnya yang najis, bukankah anjing adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang juga berhak untuk kita tolong?
Wallohu a’lam bisshowab