Mataku masih terpaku pada nomor-nomor awal soal yang seluruhnya berjumlah tiga puluh itu. Kulirik
seiko yang melingkar manis di lengan kiriku. Aku terkesiap setengah tidak percaya.
“tiga puluh menit lagi!” gumamku kaget sehingga teman sebelahku menghentikan kegiatannya dan mendelik heran kepadaku. Cepat-cepat kukuasai keadaan.
“maaf” singkatku, lagipula sepertinya orang di sebelahku tidak ingin berlama-lama mengamatiku.
Lagi-lagi aku hanya terpaku menatap butir-butir soal itu, dan berlahan-lahan peluh dingin mulai membasahi tubuhku. Kepalaku mulai pening menyesali kebodohanku semalam. Tahu ketololan macam apa yang membuatku kali ini mati kutu tidak dapat berkutik. Meringkuk semalaman si kamar dengan segudang rasa malas. Rasa malas yang menyisipkan keinginan gila. Seandainya aku tidak begitu saja terbuai… ups terlambat, bodoh, aku memang bodoh.
Kubanting
pilot dalam genggamanku, mendengus panjang, namun tidak sampai mengusik ketentraman teman sebelahku. Sedang peluh dingin terus mengucur bersama berputarnya waktu.
Mataku menatap jengkel pada pengawas ujian yang tidak lain adalah dosenku untuk mata kuliah ini, yang selalu siaga berkeliling mengawasi kalau-kalau ada mahasiswa yang berusaha untuk menyontek.
Ujian mahasiswa sih kayak anak SD, pilihan ganda. Dah gitu buanyak buanget lagi! sumpah serapahku dalam hati.
Sial… si bintang kelas masih bisa cengar-cengir mengerjakan soal keparat ini. Dadaku berdegup keras karena jengkel…, jengkel pada kebodohanku sendiri. Kubolak-balik lembaran soal itu agak panik sehingga menimbulkan suara berisik. Beberapa pasang mata tertuju kepadaku. Namun segera mungkin kualihkan perhatian berpura-pura serius menyelesaikan soal hitungan pada kertas buram. Berhasil… mereka tidak lagi mengawasi ketidakberdayaanku menyelesaikan soal. Kugigit bibirku kuat-kuat, namun tidak sampai berdarah, demi menutupi kegalauanku.
“lima belas menit lagi!” suara dosenku yang super killer dengan perut gendutnya menggema ke seluruh sudut ruangan. Hampir kumenangis mendengarnya. Juraih kembali pulpen yang kulemparkan tadi. Aku tidak punya pilihan lagi. Gemetar tanganku merogoh gulungan kertas kecil yang tersembunyi di antara tempat pensil dan alat tulisku. Matku menyelidik ke sana ke mari. Aman! Ragu-ragu kubuka gulungan kertas berisi kunci jawaban yang sempat aku salin pagi tadi sebelum ujian dimulai. Mantap kubuka gulungan kertas itu dan menyalinnya dalam lembar jawaban milikku.
Siapa suruh bikin soal ujian sama persis dengan soal kuis, pikir otakku membela diri. Namun tanpa kusadari, dosenku yang bertubuh gendut dengan kumis lebat yang menghias wajahnya itu sudah berdiri tepat di depan mejaku. Tanpa ba-bi-bu diambilnya lembar jawaban ujianku. Agak panik aku dibuatnya sehingga gulungan kertas contekan itu sempat terjatuh dari genggamanku sebelum akhirnya berpindah tangan.
“Cepat keluar!” bentaknya dengan suara super lantangnya.
Oh Tuhan, tidaaaakk! Tanpa ampun lagi dosen killer itu menghadiahiku angka nol besar. Tepat di tengah-tengah kertas ujian yang belum selesai kukerjakan.
“Anda saya nyatakan tidak lulus untuk mata kuliah saya, selamat menikmati nilai E!” kata-katanya tidak selantang tadi tapi mampu membuatku jatuh ke dasar perut bumi.
Tubuhku luluh lantak. Aku pun tak ingin kembali ke permukaan. Aku malu, jasadku begitu terhina. Juseret langkahku meninggalkan ruangan dengan kepala tertunduk. Hiruk pikuk mahasiswa yang selesai ujian hanya menambah kedalaman lukaku.
"Gila lo ya, nyontek sampe ketahuan !” ujar Gito teman sekelasku.
“katanya mahasiswa pantang menyontek, kesambet setan dari mana lo?” sindir Mugi.
“Emang enak, sekalinya nyontek eh ketangkep basah. Selamat bersenang-senang dengan nilai E, ha…ha…ha…,” cetusOdi, temanku yang lain.
"Hebat ya aktivis zaman sekarang, bisanya omdo, omong doang, kalau kepepet juga mau !" ejek Anton.
Kepalaku yang panas semakin mendidih mendengar cemoohan teman-temanku. Aku marah, malu. Ingin rasanya kulumat mulut-mulut yang penuh bisa itu. Secepat kilat kurengkuh kerah baju Odi. Kepalang basah dengan semuanya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan title aktivis keislamanku.
Badan Odi tersungkur. Tapi rupanya masalah belum selesai. Tiba-tiba dari samping kanan kiri, depan belakang aku dikeroyok puluhan mahasiswa. Bak buk bak buk. Wajahku remuk. Meski begitu tangan-tangan kokoh itu tak jua menghentikan pukulannya. Darah segar mengucur dari kening, kepala dan tubuh-tubuhku yang terluka. Pandanganku berkunang-kunang. Semua terasa begitu gelap.
“tok…tok…Rian, sholat shubuh! Cepetan, katanya aktivis tapi shubuh kesiangan!” cerocos suara yang sangat aku kenal.
Aku segera terjaga. Kupandangi sekeliling. Kamarku, tempat tidurku, komputer di sudut yang belum sempat kumatikan, lampu yang masih menyala terang. Semuanya masih sama sebelum… sebelum… aku bermimpi tadi. Hah? Mimpi? Pandanganku menerawang memastikan aku masih di alam nyata. Cepat kuraba tubuhku, normal. Tak ada sedikit pun yang terluka. Kepalaku juga tidak mengalir darah segar. Tapi napasku masih memburu.
Tubuhku kembali terkulai lemas saat menyadari semuanya hanya mimipi. Perlahan kubaringkan kembali kepalaku di atas sebuah bantal empuk. butiran bening airmataku meleleh, tidak kuasa mengingat kembali mimpiku tadi. Tubuhku terasa berenang dalam samudera api yang menjilat, tananku menggapai minta tolong, namun tidak seorangpun menghiraukanku. Mataku seakan disuguhkan pemandangan mengerikan. Tubuh-tubuh terbakar dalam sobekan nilai buta yang di dapat dari hasil yang tidak benar. Sedangkan slide film terus saja memutar perbuatan curangku saat ujian.
Astagfirullah. Gumamku pelan menyiratkan penyesalan tak berujung atas perbuatanku itu. aku menangis, tidak mampu meredam riak yang bergemuruh dalam dada. Tentang ketidakkuasaanku menghadapi siksaan Allah yang pedih atas perbuatanku demi nilai-nilai semu, demi kebanggaan dan kebahagiaan sesaat yang berakhir dengan siksa di alam sana. Lidahku yang kaku kembali melafazdkan istighfar, memohon ampun kepada Allah. Seandainya Allah tidak memberi mimpi ini, pastilah aku semakin tersesat.
Aku bangkit, menuju kamar mandi, berwudhu. Kutunaikan sholat shubuh dengan penu kekhusukan.
"Ya Robbi, aku baru saja berniat mencontek saat ujian nanti, Engjau langsung memaparkan beratnya siksa-Mu, meski lewat mimpi. Ampuni aku Allah. Aku tahu ini semua cara-Mu agar aku tidak terpeleset ke limbah kehinaan. Aku tahu, menyontek bukan solusi dari semua kelelahan batin ini saat harus berjibaku menghadapi ujian, tumpukan amanah dakwah di pundakku bukan pembenaran agar aku mengambil jalan pintas ini. Terima kasih Ya Allah, atas peringatan-Mu."
***
Cerpen ini merupakan penyempurnaan dari cerpen gue yang
terdahulu dan Alhamdulillah cerpen ini sudah dipublikasikan di Majalah Sabili edisi 13 Th. XIV 11 Januari 2007 / 21Dzulhijah 1427.
Terima kasih buat
suci dan kakaknya yang telah membantu menyempurnakan cerpen ini sekaligus mengirimkannya ke majalah Sabili.
Dan untuk teman-teman yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas semua do’a dan dukungannya.
Jazakumullah khoirun katsir..