RUANG PENGENDALI
KODE ADMIN
KATA KUNCI
LUPA KATA KUNCI
DAFTAR BARU
 
Nama :
Blog :
Pesan :
:) :( :D :p :(( :)) :x
<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31
banner
Anggota Dari:
Indonesian Muslim Blogger BlogFam Community blog-indonesia MyQuran kotasantri
Didukung Oleh:
Photobucket Blogdrive
superone Yahoo! Messenger: wawan_irn
Tamu Online :
sejak 30 Maret 2006
Terima kasih telah berkunjung
Semoga bermanfaat
asmaul husna

sebuah peringatan

     Mataku masih terpaku pada nomor-nomor awal soal yang seluruhnya berjumlah tiga puluh itu. Kulirik seiko yang melingkar manis di lengan kiriku. Aku terkesiap setengah tidak percaya.
     “tiga puluh menit lagi!” gumamku kaget sehingga teman sebelahku menghentikan kegiatannya dan mendelik heran kepadaku. Cepat-cepat kukuasai keadaan.
     “maaf” singkatku, lagipula sepertinya orang di sebelahku tidak ingin berlama-lama mengamatiku.
      Lagi-lagi aku hanya terpaku menatap butir-butir soal itu, dan berlahan-lahan peluh dingin mulai membasahi tubuhku. Kepalaku mulai pening menyesali kebodohanku semalam. Tahu ketololan macam apa yang membuatku kali ini mati kutu tidak dapat berkutik. Meringkuk semalaman si kamar dengan segudang rasa malas. Rasa malas yang menyisipkan keinginan gila. Seandainya aku tidak begitu saja terbuai… ups terlambat, bodoh, aku memang bodoh. Kubanting pilot dalam genggamanku, mendengus panjang, namun tidak sampai mengusik ketentraman teman sebelahku. Sedang peluh dingin terus mengucur bersama berputarnya waktu.
      Mataku menatap jengkel pada pengawas ujian yang tidak lain adalah dosenku untuk mata kuliah ini, yang selalu siaga berkeliling mengawasi kalau-kalau ada mahasiswa yang berusaha untuk menyontek.
      Ujian mahasiswa sih kayak anak SD, pilihan ganda. Dah gitu buanyak buanget lagi! sumpah serapahku dalam hati.
      Sial… si bintang kelas masih bisa cengar-cengir mengerjakan soal keparat ini. Dadaku berdegup keras karena jengkel…, jengkel pada kebodohanku sendiri. Kubolak-balik lembaran soal itu agak panik sehingga menimbulkan suara berisik. Beberapa pasang mata tertuju kepadaku. Namun segera mungkin kualihkan perhatian berpura-pura serius menyelesaikan soal hitungan pada kertas buram. Berhasil… mereka tidak lagi mengawasi ketidakberdayaanku menyelesaikan soal. Kugigit bibirku kuat-kuat, namun tidak sampai berdarah, demi menutupi kegalauanku.
      “lima belas menit lagi!” suara dosenku yang super killer dengan perut gendutnya menggema ke seluruh sudut ruangan. Hampir kumenangis mendengarnya. Juraih kembali pulpen yang kulemparkan tadi. Aku tidak punya pilihan lagi. Gemetar tanganku merogoh gulungan kertas kecil yang tersembunyi di antara tempat pensil dan alat tulisku. Matku menyelidik ke sana ke mari. Aman! Ragu-ragu kubuka gulungan kertas berisi kunci jawaban yang sempat aku salin pagi tadi sebelum ujian dimulai. Mantap kubuka gulungan kertas itu dan menyalinnya dalam lembar jawaban milikku.
      Siapa suruh bikin soal ujian sama persis dengan soal kuis, pikir otakku membela diri. Namun tanpa kusadari, dosenku yang bertubuh gendut dengan kumis lebat yang menghias wajahnya itu sudah berdiri tepat di depan mejaku. Tanpa ba-bi-bu diambilnya lembar jawaban ujianku. Agak panik aku dibuatnya sehingga gulungan kertas contekan itu sempat terjatuh dari genggamanku sebelum akhirnya berpindah tangan.
      “Cepat keluar!” bentaknya dengan suara super lantangnya.
      Oh Tuhan, tidaaaakk! Tanpa ampun lagi dosen killer itu menghadiahiku angka nol besar. Tepat di tengah-tengah kertas ujian yang belum selesai kukerjakan.
      “Anda saya nyatakan tidak lulus untuk mata kuliah saya, selamat menikmati nilai E!” kata-katanya tidak selantang tadi tapi mampu membuatku jatuh ke dasar perut bumi.
      Tubuhku luluh lantak. Aku pun tak ingin kembali ke permukaan. Aku malu, jasadku begitu terhina. Juseret langkahku meninggalkan ruangan dengan kepala tertunduk. Hiruk pikuk mahasiswa yang selesai ujian hanya menambah kedalaman lukaku.
     "Gila lo ya, nyontek sampe ketahuan !” ujar Gito teman sekelasku.
     “katanya mahasiswa pantang menyontek, kesambet setan dari mana lo?” sindir Mugi.
     “Emang enak, sekalinya nyontek eh ketangkep basah. Selamat bersenang-senang dengan nilai E, ha…ha…ha…,” cetusOdi, temanku yang lain.
     "Hebat ya aktivis zaman sekarang, bisanya omdo, omong doang, kalau kepepet juga mau !" ejek Anton.
     Kepalaku yang panas semakin mendidih mendengar cemoohan teman-temanku. Aku marah, malu. Ingin rasanya kulumat mulut-mulut yang penuh bisa itu. Secepat kilat kurengkuh kerah baju Odi. Kepalang basah dengan semuanya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan title aktivis keislamanku.
     Badan Odi tersungkur. Tapi rupanya masalah belum selesai. Tiba-tiba dari samping kanan kiri, depan belakang aku dikeroyok puluhan mahasiswa. Bak buk bak buk. Wajahku remuk. Meski begitu tangan-tangan kokoh itu tak jua menghentikan pukulannya. Darah segar mengucur dari kening, kepala dan tubuh-tubuhku yang terluka. Pandanganku berkunang-kunang. Semua terasa begitu gelap.
     “tok…tok…Rian, sholat shubuh! Cepetan, katanya aktivis tapi shubuh kesiangan!” cerocos suara yang sangat aku kenal.
     Aku segera terjaga. Kupandangi sekeliling. Kamarku, tempat tidurku, komputer di sudut yang belum sempat kumatikan, lampu yang masih menyala terang. Semuanya masih sama sebelum… sebelum… aku bermimpi tadi. Hah? Mimpi? Pandanganku menerawang memastikan aku masih di alam nyata. Cepat kuraba tubuhku, normal. Tak ada sedikit pun yang terluka. Kepalaku juga tidak mengalir darah segar. Tapi napasku masih memburu.
     Tubuhku kembali terkulai lemas saat menyadari semuanya hanya mimipi. Perlahan kubaringkan kembali kepalaku di atas sebuah bantal empuk. butiran bening airmataku meleleh, tidak kuasa mengingat kembali mimpiku tadi. Tubuhku terasa berenang dalam samudera api yang menjilat, tananku menggapai minta tolong, namun tidak seorangpun menghiraukanku. Mataku seakan disuguhkan pemandangan mengerikan. Tubuh-tubuh terbakar dalam sobekan nilai buta yang di dapat dari hasil yang tidak benar. Sedangkan slide film terus saja memutar perbuatan curangku saat ujian.
     Astagfirullah. Gumamku pelan menyiratkan penyesalan tak berujung atas perbuatanku itu. aku menangis, tidak mampu meredam riak yang bergemuruh dalam dada. Tentang ketidakkuasaanku menghadapi siksaan Allah yang pedih atas perbuatanku demi nilai-nilai semu, demi kebanggaan dan kebahagiaan sesaat yang berakhir dengan siksa di alam sana. Lidahku yang kaku kembali melafazdkan istighfar, memohon ampun kepada Allah. Seandainya Allah tidak memberi mimpi ini, pastilah aku semakin tersesat.
      Aku bangkit, menuju kamar mandi, berwudhu. Kutunaikan sholat shubuh dengan penu kekhusukan. "Ya Robbi, aku baru saja berniat mencontek saat ujian nanti, Engjau langsung memaparkan beratnya siksa-Mu, meski lewat mimpi. Ampuni aku Allah. Aku tahu ini semua cara-Mu agar aku tidak terpeleset ke limbah kehinaan. Aku tahu, menyontek bukan solusi dari semua kelelahan batin ini saat harus berjibaku menghadapi ujian, tumpukan amanah dakwah di pundakku bukan pembenaran agar aku mengambil jalan pintas ini. Terima kasih Ya Allah, atas peringatan-Mu."

***
Cerpen ini merupakan penyempurnaan dari cerpen gue yang terdahulu dan Alhamdulillah cerpen ini sudah dipublikasikan di Majalah Sabili edisi 13 Th. XIV 11 Januari 2007 / 21Dzulhijah 1427.
Terima kasih buat suci dan kakaknya yang telah membantu menyempurnakan cerpen ini sekaligus mengirimkannya ke majalah Sabili.
Dan untuk teman-teman yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas semua do’a dan dukungannya. Jazakumullah khoirun katsir..

Posted by superone at January 23, 2007 |  sudah (1) komentar
penyelam

Hari itu budi mendapat tugas untuk mencari mutiara di dasar laut. Dengan keahliannya menyelam tentu itu bukanlah tugas yang sulit bagi budi. Maka ia pun menyanggupi amanah itu. Dengan perlengkapan menyelam yang lengkap budi bersiap untuk menjatuhkan diri dari motor boat yang telah mengantarnya ke tengah lautan. "Hanya mutiara yang terbaik saja yang akan aku terima, ingat itu!" pesan sang bos yang dijawab dengan anggukan kepala oleh budi.

Byuur... budi pun memulai pertualangannya demi mutiara-muiara terbaik yang akan ia persembahkan kepada bosnya.

Tiga jam berlalu. Sang bos masih menunggu dengan sabar dari atas motor boatnya. Wajah dinginnya akhirnya menghangat dengan senyum yang tercipta setelah matanya menangkap lambaian tangan budi yang baru saja menyembul dari balik laut. Namun betapa terkejutnya ia setelah melihat apa yang dibawa oleh budi dari dasar laut.

"Jadi ini oleh-oleh kamu setelah tiga jam menyelam" bentak sang bos sambil menyodorkan beberapa mutiara ke arah muka budi. "Kalau tahu begini hasilnya sudah aku tinggal sejak kau menyeburkan diri tadi." Lanjut sang bos penuh penyesalan. "Apakah kamu lupa kalau aku sudah membangga-banggakan kamu di hadapan para investor yang akan membeli mutiara-mutiara ini" sang bos masih saja mengoceh menumpahkan semua kekesalannya pada budi.

Di lain pihak budi hanya diam beribu bahasa. Hanya kata maaf yang beberapa kali terlontar dari mulutnya. "Saya sadar, saya salah karena sempat tergoda dengan keindahan dasar laut sehingga lupa untuk mencari mutiara. Ketika tersadar, semua sudah terlambat. Volume okdigen saya sudah menipis, namun saya tetap berusaha untuk memaksimalkan oksigen yang masih tersisa dengan mengambil semua mutiara yang masih bisa saya jangkau dan... "

"dan ini hasilnya!" potong sang bos.

"karena itu beri saya kesempatan sekali lagi. Saya berjanji tidak akan tergoda lagi dengan keindahan di bawah sana dan saya berjanji akan mencari mutiara-mutiara yang terbaik sejak awal" minta budi

"Terlambat! Mulai saat ini kamu saya pecat!"

apa yang budi alami tidak ubahnya seperti hidup kita di dunia ini. Keindahan dunia dengan segala tipu daya syetan yang tidak pernah berhenti menggoda kita tergadang sempat membuat kita lupa akan tugas utama kita sebagai kholifah di dunia ini yang tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT. Masa muda kita berlalu begitu saja tanpa nilai ibadah yang berarti karena kita masih sibuk mengagung-agungkan dunia. Ketika kita tersadar, usia mulai senja. Ibadah menjadi tidak maksimal karena berbagai keluhan atas keterbatasan fisik yang mulai rapuh. Hingga akhirnya ajal menjemput. Dan kesempatan kedua tidak akan pernah kita peroleh.

Kini anggaplah hidup kita ini sebagai kesempatan kedua yang telah Allah berikan kepada kita. Gunakan sebaik mungkin untuk mempersembahkan ibadah terbaik sebagaimana yang telah Rasulullah contohkan 14 abad yang lalu. Bukankah Allah lebih menyukai orang yang bertobat di waktu muda dibandingkan ketika sudah tua? Wallahu a'lam bishowwab

Posted by superone at January 22, 2007 |  sudah (1) komentar
hari ini, enam bulan yang lalu

Sekitar enam bulan yang lalu, gue berkenalan dengan seorang wanita melalui YM! Awalnya sih cuma iseng ingin menyapa dan mengucapkan terimakasih karena sudah mengunjungi blog gue. Namun Allah menakdirkan lain, sejak saat itu gue jadi sering chatting dengan dia di setiap kesempatan. Apalagi saat itu gue lagi sering-seringnya ke warnet jadi hampir setiap malam gue ngobrol dengan dia melalui YM! Kok malam sih? Karena gue ke warnetnya malam terus. Saat itu memang ada warnet 24 jam yang baru buka di dekat rumah gue, di sana menyediakan paket empat jam dengan harga Rp. 6.000, namun sayangnya ini hanya berlaku dari jam delapan malam sampe jam delapan pagi. Demi menghemat pengeluaran, gue benar-benar memanfaatkan paket tersebut.

Namun itu tidak berlangsung lama. Tanpa penyebab yang jelas Flashdisk gue tiba-tiba rusak dan tidak bisa connect dengan komputer. So, gue jadi malas berlama-lama di warnet dan sejak saat itu pula komunikasi gue dengan dia terhenti begitu saja. Karena hampir tidak pernah lagi kita online dalam waktu yang bersamaan. Satu hal yang membuat gue sulit melupakan dia adalah dia itu suka buanget main game. Gue tahu itu karena setiap kali kita chatting dia pasti sambil main game. Saat itu sih dia lagi tergila-gila sama warcraft III. Sampai-sampai dia begitu semangat memperkenalkan gue dengan game online tersebut. jelas saat itu gue tidak mau, takut kecanduan, lanjut gue memberi alasan. Bisa tekor gue kalo tiap hari harus menyisakan duit cuma untuk main game online tersebut. eh dia malah tambah semangat. “Ga usah khawatir, kan ada versi offline-nya juga.” Kira-kira begitulah dia memberikan alternatif. Dia pun memberikan sebuah alamat website yang menyediakan source-nya untuk di download. Karena penasaran, gue pun menuju ke alamat website tersebut. namun urung untuk download lebih lanjut karena ukuran file-nya terlalu besar. Dia pun cukup maklum, namun bukan berarti usahanya berhenti sampe di situ. Dengan diplomatis dia memberikan alternatif yang lain. "Kira-kira berapa sih biaya kirim paket kilat dari yogya ke jakarta? kalau murah nanti saya kirimin deh dalam bentuk CD. Itu juga kalau kamu mau"

Paket kilat? sempat heran juga sih. Kalo emang mau yang murah kenapa ga kiriman biasa aja. Paling berapa sih biaya prangko? Pikirku saat itu yang akhirnya aku utarakan juga padanya. Kalo kiriman biasa takut lama, dia memberikan alasan. Ya udah kalo memang dalam bentuk CD skalian ya dengan game yang lain. Pintaku sebelum mengakhiri obrolanku malam itu. Yang ternyata memang benar-benar obrolan terakhir gue dengan dia di YM!, karena setelah itu kita memang tidak lagi pernah chatting-chattingan.

Hingga beberapa hari kemudian, amplop berwarna coklat sampai ke tangan gue. Ada dua nama yang tercantum di sana, nama gue dan nama wanita itu, lengkap dengan alamat rumah masing-masing. Ada dua keping CD berwarna kuning bertuliskan warcraft di dalamnya. yup. Amplop itu adalah kiriman kilat dari yogya. Lebih tepatnya dari wanita itu. Sempat malu juga sih karena pernah meragukan kalo dia benar-benar ingin mengirimkan ini semua. Saat itu juga gue berusaha untuk menginstallnya, Namun Allah berkehendak lain. kedua CD itu tidak bisa terbaca di komputer gue. Usut punya usut ternyata bukan CD-nya yang rusak melainkan CD-ROM gue yang rusak. Lengkap deh! pikir gue saat itu. Alhamdulillah floppy drive gue tidak ikut-ikutan rusak sehingga masih bisa ada data yang keluar-masuk ke komputer gue, walaupun hanya 1,4 Mb sekali lewat. Malamnya gue berusaha ke warnet untuk mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf, namun sayang dia tidak sedang online. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya gue hanya bisa mengucapkan itu semua melalui pesan offline.

Sejak saat itulah gue harus kembali mengencangkan ikat pinggang untuk menghemat pengeluaran agar ada yang bisa di tabung untuk membeli flashdisk dan CD-ROM. Alhamdulillah dalam waktu yang tidak terlalu lama gue berhasil mengumpulkan uang yang sudah cukup untuk membeli kedua benda tersebut. namun batal gue lakukan karena saat itu gue berubah pikiran. Sayang kalo gue beli kedua benda itu sekarang. Lebih baik gue beli MP3 player dan DVD RW aja sekalian. Cuma nambah budget sedikit namun fungsinya bisa lebih gue maksimalkan. Pikir gue saat itu.

Alhamdulillah jum’at kemarin, Dengan membawa uang sebesar enam ratus ribu rupiah lebih dikit, gue pergi ke mall mangga dua untuk membeli kedua benda yang sejak enam bulan lalu itu gue impikan. bersama denny dan abqori yang juga ingin membeli komputer untuk keperluan kantornya, kita mengunjungi beberapa kios di sana. Hari semakin sore, namun gue belum juga mendapatkan barang yang cocok. Hingga akhirnya gue menjatuhkan pilihan pada creative muvo slim kapasitas 512 untuk MP3 player walaupun sebenarnya gue ingin yang kapasitasnya lebih kecil untuk menyesuaikan dengan budget, tapi sayang tidak ada yang jual. Kalaupun ada, barangnya lagi kosong. Merk lain? waduh gue ga mo ambil resiko. Ada sih yang harganya lebih murah tapi kapasitasnya lebih besar, merknya Lexus. Kalo Nexus sih boleh juga. Walaupun sempat ragu dan merasa sayang akhirnya uang sebesar 435 ribu pun berganti menjadi creative muvo slim MP3 player. Akibatnya gue terpaksa mengorbankan keinginan untuk memiliki DVD RW dan menggantinya dengan VCD RW karena uang yang tersisa tidak cukup lagi walaupun hanya untuk membeli VCD RW-DVD ROM combo. Inilah pilihan. Dan gue tetap bersyukur karena gue memang lebih butuh MP3 Player dibandingkan dengan DVD RW. Lagi pula fungsi yang gue butuhkan masih bisa gue dapatkan dari VCD RW. Sedangkan banyak fungsi dari MP3 Player yang tidak bisa gue dapatkan kalo gue memilih hanya membeli Flashdisk demi mendapatkan DVD RW.

Terlepas dari itu semua, yang terpenting bagi gue sekarang, gue benar-benar bisa memaksimalkan kedua alat terebut untuk mendukung aktivitas gue agar bisa lebih produktif lagi. Karena setelah ini gue ingin merencanakan anggaran untuk membeli camera digital. Mudah-mudahan sebelum tahun ini berakhir gue sudah bisa mewujudkannya. Namun sebelum itu gue ingin meremajakan siemens tua gue yang sudah terlalu sering minta pensiun dini. Selain batere-nya yang sudah ngedrop dan tidak bisa bergetar lagi. Casingnya juga sudah retak. So, daripada di service lebih baik ganti yang baru, walaupun itu second. Atau mungkin sekalian aja yang berkamera, jadi tidak perlu beli camera digital lagi? Gimana teman-teman yang baik hati dan telah membaca tulisan ini, Ada usulan? Apalagi speaker aktif komputer gue sekarang rusak gara-gara terjatuh beberapa hari yang lalu. Beginilah hidup, masalah yang satu selesai, muncul masalah yang lain.

Btw, untuk fa dan suami, terima kasih atas kirimannya, tapi sayang game warcraftnya tidak bisa gue install karena ada error ketika membaca CD dua-nya. So, bisa kirim lagi ga? eh ga usah deh cuma bercanda kok. Lagi pula takut memanggu target untuk cepat-cepat menyelesaikan skripsi nih.

Dan buat pembaca setia atau yang cuma sekedar mampir, maaf ya kalo kepanjangan. Ga tahu nih lagi senang aja pengen berbagi kebahagian. insya Allah saya sudah memposting juga dua tulisan selanjutnya, yang satu tentang hikmah hidup dan yang lainnya tentang tips penulisan, hanya saja saya atur untuk dipublikasikan besok dan dua hari setelah itu.
Dan sebagai penutup saya ucapkan: Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Posted by superone at January 21, 2007 |  sudah (1) komentar

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Next Page