RUANG PENGENDALI
KODE ADMIN
KATA KUNCI
LUPA KATA KUNCI
DAFTAR BARU
 
Nama :
Blog :
Pesan :
:) :( :D :p :(( :)) :x
<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31
banner
Anggota Dari:
Indonesian Muslim Blogger BlogFam Community blog-indonesia MyQuran kotasantri
Didukung Oleh:
Photobucket Blogdrive
superone Yahoo! Messenger: wawan_irn
Tamu Online :
sejak 30 Maret 2006
Terima kasih telah berkunjung
Semoga bermanfaat
asmaul husna

ATM

Segala sesuatu ada permulaannya dan setiap permulaan selalu sulit untuk dilakukan. Bener ga sih pepatahnya seperti ini ??? kalo salah tolong di koreksi ya…

Mendengar pepatah ini gue jadi teringat dengan masa-masa awal ketika gue tertarik dengan dunia penulisan. waktu itu gue pengen banget punya tulisan yang bisa gue publikasiin, tapi gue ga berani. Waktu itu kan gue spesialis buku harian, itu pun isinya ga penting buanget, curahan hati semua. Apalagi hampir semuanya berwarna ‘merah jambu’ hee… jadi malu. Namun seiring waktu berjalan, keinginan untuk mempublikasikan hasil karya sendiri semakin mantab, apa lagi setelah gue bergabung dengan redaktur buletin jum’at yang dikelola oleh rohis SMU. Namun semua itu tanpa pernah diiringi dengan kemajuan gue dalam teknik penulisan, sehingga gue sampe stress sendiri.

Hingga suatu hari gue terkagum-kagum dengan sebuah cerpen. Ceritanya sangat sederhana namun mampu menusuk ke jantung gue, yaitu cerita tentang seorang siswa yang tertangkap basah sedang mencontek ketika ujian akhir nasional. Soalnya belum lama itu gue nyontek, bedanya gue ga ketahuan. He.. he…

Menyadari semua itu, gue ingin sekali menebus kesalahan gue dengan cara mempublikasikan cerpen ini melalui bulletin jum’at, mudah-mudahan temen-temen gue yang pernah nyontek juga sadar seperti gue.

Dengan semangat 45, cerpen itupun gue tulis ulang dengan tangan gue sendiri plus nama gue di akhir cerpen. Tahu doang tujuannya? yup! biar cerpen itu dianggap karya gue. Alhamdulillah niat itu tidak pernah terwujud. Karena gue tidak ingin terjebak dengan jalan pintas yang di tunjukkan syetan demi mewujudkan keinginan gue mempublikasikan karya gue sendiri. Akhirnya gue pun memutuskan untuk menundanya sampai bisa membuat cerpen yang seperti itu, walaupun mungkin ide dan alurnya sama.

Setelah mencoba berulang-ulang, ternyata gue tidak bisa terlepas dari bayang-bayang cerpen tersebut. Hingga akhirnya gue berhenti untuk mencoba lagi. Bahkan gue menjadi phobia ketika hendak menulis dengan tema yang ternyata sudah pernah di tulis dan dipublikasikan oleh orang lain, apalagi penulisnya adalah penulis terkenal. Gue takut banget dibilang membajak tulisan orang lain. Buntut dari semua itu, gue jadi terpuruk pada jurang ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri alias ga PD.

Kepercayaan diri gue berangsur-angsur tumbuh kembali setelah tulisan gue yang berjudul embun pagi dipublikasikan di bulletin jum’at. Walaupun sejujurnya tulisan itu hanyalah rangkuman dari beberapa artikel yang gue baca dari berbagai sumber, yang kemudian gue tulis ulang berdasarkan suasana hati gue saat itu. Bagi gue tulisan itu sangat istimewa karena gue belum bisa lagi menulis dengan gaya seperti itu.

Dan semenjak itu gue mulai menemukan kembali kenikmatan ketika menulis. Gue mulai bisa terbebas dari bayang-bayang para penulis yang karyanya secara tidak langsung mempengaruhi gaya penulisan gue. Karena memang hingga saat ini gue masih menggunakan trik yang gue namakan ATM singkatan dari Amati, Tiru dan Modifikasi.

Gue cukup nyaman dengan trik ini, walaupun demikian gue tetap berusaha memodifikasinya dengan sudut pandang gue secara pribadi sehingga sentuhan gue tetap terlihat menonjol dibandingkan dengan karya aslinya.

Begitupun dengan hal meniru. Gue berusaha sebisa mungkin agar terhindar dari yang namanya plagiat alias menjiplak. Gue hanya akan meniru sebatas ide, kerangka atau cara dan teknik penulisannya.

Semua ini gue lakukan tidak lebih sebagai cara gue dalam melatih teknik penulisan, hingga akhirnya gue punya gaya sendiri. Bukankan william slinzer pernah menyarankan kepada kita untuk tidak pernah ragu meniru penulis lain, karena setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model.

Itulah sebabnya hingga saat ini gue belum pernah mengirimkan tulisan gue ke media mana pun. Cerpen sebuah peringatan yang berhasil masuk majalah sabili juga tidak lebih dari niat baik seorang teman yang menunjukkan blog ini ke kakaknya yang ternyata seorang editor. Nah melalui tangan dialah cerpen akhir yang indah di sempurnakan menjadi sebuah peringatan yang tidak lain adalah hasil daur ulang dari cerpen yang telah berhasil mengingatkan gue tentang masalah contek-mencontek .

Yang terakhir, tidak ada salahnya meniru lho… yang salah itu menjiplak! Bukankah kita hidup di dunia ini dengan meniru rasulullah. Bukankah kita semua bisa seperti ini karena sejak bayi suka meniru orang-orang yang ada di sekitar kita.

walaupun demikian dalam hal karya cipta jangan asal copy paste dong! apalagi sampai menjiplak. Itu mah namanya pembajakan!

Posted by superone at January 24, 2007 |  sudah (1) komentar
sebuah peringatan

     Mataku masih terpaku pada nomor-nomor awal soal yang seluruhnya berjumlah tiga puluh itu. Kulirik seiko yang melingkar manis di lengan kiriku. Aku terkesiap setengah tidak percaya.
     “tiga puluh menit lagi!” gumamku kaget sehingga teman sebelahku menghentikan kegiatannya dan mendelik heran kepadaku. Cepat-cepat kukuasai keadaan.
     “maaf” singkatku, lagipula sepertinya orang di sebelahku tidak ingin berlama-lama mengamatiku.
      Lagi-lagi aku hanya terpaku menatap butir-butir soal itu, dan berlahan-lahan peluh dingin mulai membasahi tubuhku. Kepalaku mulai pening menyesali kebodohanku semalam. Tahu ketololan macam apa yang membuatku kali ini mati kutu tidak dapat berkutik. Meringkuk semalaman si kamar dengan segudang rasa malas. Rasa malas yang menyisipkan keinginan gila. Seandainya aku tidak begitu saja terbuai… ups terlambat, bodoh, aku memang bodoh. Kubanting pilot dalam genggamanku, mendengus panjang, namun tidak sampai mengusik ketentraman teman sebelahku. Sedang peluh dingin terus mengucur bersama berputarnya waktu.
      Mataku menatap jengkel pada pengawas ujian yang tidak lain adalah dosenku untuk mata kuliah ini, yang selalu siaga berkeliling mengawasi kalau-kalau ada mahasiswa yang berusaha untuk menyontek.
      Ujian mahasiswa sih kayak anak SD, pilihan ganda. Dah gitu buanyak buanget lagi! sumpah serapahku dalam hati.
      Sial… si bintang kelas masih bisa cengar-cengir mengerjakan soal keparat ini. Dadaku berdegup keras karena jengkel…, jengkel pada kebodohanku sendiri. Kubolak-balik lembaran soal itu agak panik sehingga menimbulkan suara berisik. Beberapa pasang mata tertuju kepadaku. Namun segera mungkin kualihkan perhatian berpura-pura serius menyelesaikan soal hitungan pada kertas buram. Berhasil… mereka tidak lagi mengawasi ketidakberdayaanku menyelesaikan soal. Kugigit bibirku kuat-kuat, namun tidak sampai berdarah, demi menutupi kegalauanku.
      “lima belas menit lagi!” suara dosenku yang super killer dengan perut gendutnya menggema ke seluruh sudut ruangan. Hampir kumenangis mendengarnya. Juraih kembali pulpen yang kulemparkan tadi. Aku tidak punya pilihan lagi. Gemetar tanganku merogoh gulungan kertas kecil yang tersembunyi di antara tempat pensil dan alat tulisku. Matku menyelidik ke sana ke mari. Aman! Ragu-ragu kubuka gulungan kertas berisi kunci jawaban yang sempat aku salin pagi tadi sebelum ujian dimulai. Mantap kubuka gulungan kertas itu dan menyalinnya dalam lembar jawaban milikku.
      Siapa suruh bikin soal ujian sama persis dengan soal kuis, pikir otakku membela diri. Namun tanpa kusadari, dosenku yang bertubuh gendut dengan kumis lebat yang menghias wajahnya itu sudah berdiri tepat di depan mejaku. Tanpa ba-bi-bu diambilnya lembar jawaban ujianku. Agak panik aku dibuatnya sehingga gulungan kertas contekan itu sempat terjatuh dari genggamanku sebelum akhirnya berpindah tangan.
      “Cepat keluar!” bentaknya dengan suara super lantangnya.
      Oh Tuhan, tidaaaakk! Tanpa ampun lagi dosen killer itu menghadiahiku angka nol besar. Tepat di tengah-tengah kertas ujian yang belum selesai kukerjakan.
      “Anda saya nyatakan tidak lulus untuk mata kuliah saya, selamat menikmati nilai E!” kata-katanya tidak selantang tadi tapi mampu membuatku jatuh ke dasar perut bumi.
      Tubuhku luluh lantak. Aku pun tak ingin kembali ke permukaan. Aku malu, jasadku begitu terhina. Juseret langkahku meninggalkan ruangan dengan kepala tertunduk. Hiruk pikuk mahasiswa yang selesai ujian hanya menambah kedalaman lukaku.
     "Gila lo ya, nyontek sampe ketahuan !” ujar Gito teman sekelasku.
     “katanya mahasiswa pantang menyontek, kesambet setan dari mana lo?” sindir Mugi.
     “Emang enak, sekalinya nyontek eh ketangkep basah. Selamat bersenang-senang dengan nilai E, ha…ha…ha…,” cetusOdi, temanku yang lain.
     "Hebat ya aktivis zaman sekarang, bisanya omdo, omong doang, kalau kepepet juga mau !" ejek Anton.
     Kepalaku yang panas semakin mendidih mendengar cemoohan teman-temanku. Aku marah, malu. Ingin rasanya kulumat mulut-mulut yang penuh bisa itu. Secepat kilat kurengkuh kerah baju Odi. Kepalang basah dengan semuanya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan title aktivis keislamanku.
     Badan Odi tersungkur. Tapi rupanya masalah belum selesai. Tiba-tiba dari samping kanan kiri, depan belakang aku dikeroyok puluhan mahasiswa. Bak buk bak buk. Wajahku remuk. Meski begitu tangan-tangan kokoh itu tak jua menghentikan pukulannya. Darah segar mengucur dari kening, kepala dan tubuh-tubuhku yang terluka. Pandanganku berkunang-kunang. Semua terasa begitu gelap.
     “tok…tok…Rian, sholat shubuh! Cepetan, katanya aktivis tapi shubuh kesiangan!” cerocos suara yang sangat aku kenal.
     Aku segera terjaga. Kupandangi sekeliling. Kamarku, tempat tidurku, komputer di sudut yang belum sempat kumatikan, lampu yang masih menyala terang. Semuanya masih sama sebelum… sebelum… aku bermimpi tadi. Hah? Mimpi? Pandanganku menerawang memastikan aku masih di alam nyata. Cepat kuraba tubuhku, normal. Tak ada sedikit pun yang terluka. Kepalaku juga tidak mengalir darah segar. Tapi napasku masih memburu.
     Tubuhku kembali terkulai lemas saat menyadari semuanya hanya mimipi. Perlahan kubaringkan kembali kepalaku di atas sebuah bantal empuk. butiran bening airmataku meleleh, tidak kuasa mengingat kembali mimpiku tadi. Tubuhku terasa berenang dalam samudera api yang menjilat, tananku menggapai minta tolong, namun tidak seorangpun menghiraukanku. Mataku seakan disuguhkan pemandangan mengerikan. Tubuh-tubuh terbakar dalam sobekan nilai buta yang di dapat dari hasil yang tidak benar. Sedangkan slide film terus saja memutar perbuatan curangku saat ujian.
     Astagfirullah. Gumamku pelan menyiratkan penyesalan tak berujung atas perbuatanku itu. aku menangis, tidak mampu meredam riak yang bergemuruh dalam dada. Tentang ketidakkuasaanku menghadapi siksaan Allah yang pedih atas perbuatanku demi nilai-nilai semu, demi kebanggaan dan kebahagiaan sesaat yang berakhir dengan siksa di alam sana. Lidahku yang kaku kembali melafazdkan istighfar, memohon ampun kepada Allah. Seandainya Allah tidak memberi mimpi ini, pastilah aku semakin tersesat.
      Aku bangkit, menuju kamar mandi, berwudhu. Kutunaikan sholat shubuh dengan penu kekhusukan. "Ya Robbi, aku baru saja berniat mencontek saat ujian nanti, Engjau langsung memaparkan beratnya siksa-Mu, meski lewat mimpi. Ampuni aku Allah. Aku tahu ini semua cara-Mu agar aku tidak terpeleset ke limbah kehinaan. Aku tahu, menyontek bukan solusi dari semua kelelahan batin ini saat harus berjibaku menghadapi ujian, tumpukan amanah dakwah di pundakku bukan pembenaran agar aku mengambil jalan pintas ini. Terima kasih Ya Allah, atas peringatan-Mu."

***
Cerpen ini merupakan penyempurnaan dari cerpen gue yang terdahulu dan Alhamdulillah cerpen ini sudah dipublikasikan di Majalah Sabili edisi 13 Th. XIV 11 Januari 2007 / 21Dzulhijah 1427.
Terima kasih buat suci dan kakaknya yang telah membantu menyempurnakan cerpen ini sekaligus mengirimkannya ke majalah Sabili.
Dan untuk teman-teman yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas semua do’a dan dukungannya. Jazakumullah khoirun katsir..

Posted by superone at January 23, 2007 |  sudah (1) komentar
penyelam

Hari itu budi mendapat tugas untuk mencari mutiara di dasar laut. Dengan keahliannya menyelam tentu itu bukanlah tugas yang sulit bagi budi. Maka ia pun menyanggupi amanah itu. Dengan perlengkapan menyelam yang lengkap budi bersiap untuk menjatuhkan diri dari motor boat yang telah mengantarnya ke tengah lautan. "Hanya mutiara yang terbaik saja yang akan aku terima, ingat itu!" pesan sang bos yang dijawab dengan anggukan kepala oleh budi.

Byuur... budi pun memulai pertualangannya demi mutiara-muiara terbaik yang akan ia persembahkan kepada bosnya.

Tiga jam berlalu. Sang bos masih menunggu dengan sabar dari atas motor boatnya. Wajah dinginnya akhirnya menghangat dengan senyum yang tercipta setelah matanya menangkap lambaian tangan budi yang baru saja menyembul dari balik laut. Namun betapa terkejutnya ia setelah melihat apa yang dibawa oleh budi dari dasar laut.

"Jadi ini oleh-oleh kamu setelah tiga jam menyelam" bentak sang bos sambil menyodorkan beberapa mutiara ke arah muka budi. "Kalau tahu begini hasilnya sudah aku tinggal sejak kau menyeburkan diri tadi." Lanjut sang bos penuh penyesalan. "Apakah kamu lupa kalau aku sudah membangga-banggakan kamu di hadapan para investor yang akan membeli mutiara-mutiara ini" sang bos masih saja mengoceh menumpahkan semua kekesalannya pada budi.

Di lain pihak budi hanya diam beribu bahasa. Hanya kata maaf yang beberapa kali terlontar dari mulutnya. "Saya sadar, saya salah karena sempat tergoda dengan keindahan dasar laut sehingga lupa untuk mencari mutiara. Ketika tersadar, semua sudah terlambat. Volume okdigen saya sudah menipis, namun saya tetap berusaha untuk memaksimalkan oksigen yang masih tersisa dengan mengambil semua mutiara yang masih bisa saya jangkau dan... "

"dan ini hasilnya!" potong sang bos.

"karena itu beri saya kesempatan sekali lagi. Saya berjanji tidak akan tergoda lagi dengan keindahan di bawah sana dan saya berjanji akan mencari mutiara-mutiara yang terbaik sejak awal" minta budi

"Terlambat! Mulai saat ini kamu saya pecat!"

apa yang budi alami tidak ubahnya seperti hidup kita di dunia ini. Keindahan dunia dengan segala tipu daya syetan yang tidak pernah berhenti menggoda kita tergadang sempat membuat kita lupa akan tugas utama kita sebagai kholifah di dunia ini yang tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT. Masa muda kita berlalu begitu saja tanpa nilai ibadah yang berarti karena kita masih sibuk mengagung-agungkan dunia. Ketika kita tersadar, usia mulai senja. Ibadah menjadi tidak maksimal karena berbagai keluhan atas keterbatasan fisik yang mulai rapuh. Hingga akhirnya ajal menjemput. Dan kesempatan kedua tidak akan pernah kita peroleh.

Kini anggaplah hidup kita ini sebagai kesempatan kedua yang telah Allah berikan kepada kita. Gunakan sebaik mungkin untuk mempersembahkan ibadah terbaik sebagaimana yang telah Rasulullah contohkan 14 abad yang lalu. Bukankah Allah lebih menyukai orang yang bertobat di waktu muda dibandingkan ketika sudah tua? Wallahu a'lam bishowwab

Posted by superone at January 22, 2007 |  sudah (1) komentar

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Next Page