RUANG PENGENDALI
KODE ADMIN
KATA KUNCI
LUPA KATA KUNCI
DAFTAR BARU
 
Nama :
Blog :
Pesan :
:) :( :D :p :(( :)) :x
<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31
banner
Anggota Dari:
Indonesian Muslim Blogger BlogFam Community blog-indonesia MyQuran kotasantri
Didukung Oleh:
Photobucket Blogdrive
superone Yahoo! Messenger: wawan_irn
Tamu Online :
sejak 30 Maret 2006
Terima kasih telah berkunjung
Semoga bermanfaat
asmaul husna

andai kutahu

Andai kutahu, kapan tiba ajalku
Ku akan memohon, Tuhan tolong panjangkan umurku
Andai kutahu, kapan tiba masaku
Ku akan memohon, Tuhan jangan Kau ambil nyawaku
Andai kutahu, malaikat-Mu kan menjemputku
Izinkan aku, mengucap kata tobat pada Mu

(Ungu, andai kutahu)

Pertama kali mendengar lagu tersebut gua ga tahu siapa penyanyinya, tapi gue merasa ada sentuhan yang membuat hati ini bergetar. Apalagi memang lagu itu gue dengar dalam acara dengan suasana yang memang dimaksudkan untuk itu.

Kini, gue sudah tidak asing lagi dengan lagu itu. Bahkan diantara lagu nasyid dan murottal yang tersimpan di MP3 gue, sengaja gue selipkan lagu tersebut. Walaupun demikian, hingga saat ini gue tidak hafal dengan syairnya. Sehingga gue sangat terkejut ketika seorang teman mengomentari lagu ini.
“Nadanya sih gue suka, tapi syairnya salah! Udah tahu kapan mati, bukannya bertobat terus beribadah sebaik mungkin eh malah minta dipanjangkan umurnya bahkan minta jangan diambil nyawanya lagi. Konyol kan?”

Mendengar komentarnya, gue jusru teringat dengan salah satu sinetron cookies yang berjudul deadline cinta. Sinetron 5 episode yang diputar di sctv setiap hari senin-jum’at pukul 18.00 dan di putar ulang pada sabtu dan minggu pukul 13.00 itu mengisahkan siswi SMU pengidap kanker stadium 4 yang selalu gonta-ganti pacar. Wajahnya yang cantik membuatnya tidak kesulitan untuk mendapatkan seorang cowok untuk dipacari tidak lebih dari seminggu. Mengenai penyakitnya ini, tidak seorang pun yang mengetahuinya termasuk bibi yang tinggal bersamanya. Apalagi orang tuanya yang memang tinggal di luar negeri. Dokter yang merawatnya tidak pernah bisa membujuknya agar mau dirawat secara intensif, hingga pacarnya yang terakhir melihatnya pingsan dan membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit itulah pacarnya menasehatinya yang hampir putus asa, “umurmu memang tidak lama lagi, tapi jangan kau sia-siakan. Manfaatkan waktumu itu untuk mengejar cita-citamu” siswi itupun tersenyum dan ingin segera sembuh agar bisa mewujudkan cita-citanya, yaitu melihat pacarnya konser di acara pentas seni sekolah.

Sesempit itukah pemikiran remaja kita? ketika sadar ajal kan menjemput, bukannya berpikir untuk kehidupan akhiratnya, eh malah mikirin dunia yang fana ini. ingin bertahan hidup cuma untuk nonton pentas seni. astaghfirullah.

saudaraku, Apakah kita tidak pernah berpikir bahwa kehidupan yang sesunguhnya bukanlah di dunia ini. Kalau boleh mengibaratkan, dunia ini hanyalah rumah singgah tempat kita menyiapkan perbekalan. Perbekalan yang akan kita pergunakan dalam perjalanan yang sangat panjang menuju surga-Nya. Kalau kita sadar akan semua itu, mengapa hidup kita yang singkat ini tidak kita pergunakan sebaik mungkin. Memanfaatkannya untuk meraih cita-cita kita; hidup bahagia di dunia dan akhirat, bertemu dengan Allah dan Rasulnya di Surga-Nya.

Kalau memang itu cita-cita kita, tipsnya ungu bukanlah pilihan yang patut untuk di coba, namun amalkanlah pesan Rasulullah berikut ini :
Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup untuk selamanya dan beribadahlah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok.

So, kalo mo tobat jangan tunggu malaikat datang menjemput. Tapi bertobatlah mulai detik ini juga dan sesegara mungkin persiapkan kematianmu agar tidak su’ul khotimah sehingga tidak perlu lagi memohon dipanjangkan umur apalagi sampai memohon jangan ambil nyawa kita. nanti dibalikin lho sama izroil. Mang yang kemaren ga cukup. Mo nambah berapa tahun lagi? 100, 200 atau 1000? Sorry la yau.

Posted by superone at January 31, 2007 |  sudah (2) komentar
ATM

Segala sesuatu ada permulaannya dan setiap permulaan selalu sulit untuk dilakukan. Bener ga sih pepatahnya seperti ini ??? kalo salah tolong di koreksi ya…

Mendengar pepatah ini gue jadi teringat dengan masa-masa awal ketika gue tertarik dengan dunia penulisan. waktu itu gue pengen banget punya tulisan yang bisa gue publikasiin, tapi gue ga berani. Waktu itu kan gue spesialis buku harian, itu pun isinya ga penting buanget, curahan hati semua. Apalagi hampir semuanya berwarna ‘merah jambu’ hee… jadi malu. Namun seiring waktu berjalan, keinginan untuk mempublikasikan hasil karya sendiri semakin mantab, apa lagi setelah gue bergabung dengan redaktur buletin jum’at yang dikelola oleh rohis SMU. Namun semua itu tanpa pernah diiringi dengan kemajuan gue dalam teknik penulisan, sehingga gue sampe stress sendiri.

Hingga suatu hari gue terkagum-kagum dengan sebuah cerpen. Ceritanya sangat sederhana namun mampu menusuk ke jantung gue, yaitu cerita tentang seorang siswa yang tertangkap basah sedang mencontek ketika ujian akhir nasional. Soalnya belum lama itu gue nyontek, bedanya gue ga ketahuan. He.. he…

Menyadari semua itu, gue ingin sekali menebus kesalahan gue dengan cara mempublikasikan cerpen ini melalui bulletin jum’at, mudah-mudahan temen-temen gue yang pernah nyontek juga sadar seperti gue.

Dengan semangat 45, cerpen itupun gue tulis ulang dengan tangan gue sendiri plus nama gue di akhir cerpen. Tahu doang tujuannya? yup! biar cerpen itu dianggap karya gue. Alhamdulillah niat itu tidak pernah terwujud. Karena gue tidak ingin terjebak dengan jalan pintas yang di tunjukkan syetan demi mewujudkan keinginan gue mempublikasikan karya gue sendiri. Akhirnya gue pun memutuskan untuk menundanya sampai bisa membuat cerpen yang seperti itu, walaupun mungkin ide dan alurnya sama.

Setelah mencoba berulang-ulang, ternyata gue tidak bisa terlepas dari bayang-bayang cerpen tersebut. Hingga akhirnya gue berhenti untuk mencoba lagi. Bahkan gue menjadi phobia ketika hendak menulis dengan tema yang ternyata sudah pernah di tulis dan dipublikasikan oleh orang lain, apalagi penulisnya adalah penulis terkenal. Gue takut banget dibilang membajak tulisan orang lain. Buntut dari semua itu, gue jadi terpuruk pada jurang ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri alias ga PD.

Kepercayaan diri gue berangsur-angsur tumbuh kembali setelah tulisan gue yang berjudul embun pagi dipublikasikan di bulletin jum’at. Walaupun sejujurnya tulisan itu hanyalah rangkuman dari beberapa artikel yang gue baca dari berbagai sumber, yang kemudian gue tulis ulang berdasarkan suasana hati gue saat itu. Bagi gue tulisan itu sangat istimewa karena gue belum bisa lagi menulis dengan gaya seperti itu.

Dan semenjak itu gue mulai menemukan kembali kenikmatan ketika menulis. Gue mulai bisa terbebas dari bayang-bayang para penulis yang karyanya secara tidak langsung mempengaruhi gaya penulisan gue. Karena memang hingga saat ini gue masih menggunakan trik yang gue namakan ATM singkatan dari Amati, Tiru dan Modifikasi.

Gue cukup nyaman dengan trik ini, walaupun demikian gue tetap berusaha memodifikasinya dengan sudut pandang gue secara pribadi sehingga sentuhan gue tetap terlihat menonjol dibandingkan dengan karya aslinya.

Begitupun dengan hal meniru. Gue berusaha sebisa mungkin agar terhindar dari yang namanya plagiat alias menjiplak. Gue hanya akan meniru sebatas ide, kerangka atau cara dan teknik penulisannya.

Semua ini gue lakukan tidak lebih sebagai cara gue dalam melatih teknik penulisan, hingga akhirnya gue punya gaya sendiri. Bukankan william slinzer pernah menyarankan kepada kita untuk tidak pernah ragu meniru penulis lain, karena setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model.

Itulah sebabnya hingga saat ini gue belum pernah mengirimkan tulisan gue ke media mana pun. Cerpen sebuah peringatan yang berhasil masuk majalah sabili juga tidak lebih dari niat baik seorang teman yang menunjukkan blog ini ke kakaknya yang ternyata seorang editor. Nah melalui tangan dialah cerpen akhir yang indah di sempurnakan menjadi sebuah peringatan yang tidak lain adalah hasil daur ulang dari cerpen yang telah berhasil mengingatkan gue tentang masalah contek-mencontek .

Yang terakhir, tidak ada salahnya meniru lho… yang salah itu menjiplak! Bukankah kita hidup di dunia ini dengan meniru rasulullah. Bukankah kita semua bisa seperti ini karena sejak bayi suka meniru orang-orang yang ada di sekitar kita.

walaupun demikian dalam hal karya cipta jangan asal copy paste dong! apalagi sampai menjiplak. Itu mah namanya pembajakan!

Posted by superone at January 24, 2007 |  sudah (1) komentar
sebuah peringatan

     Mataku masih terpaku pada nomor-nomor awal soal yang seluruhnya berjumlah tiga puluh itu. Kulirik seiko yang melingkar manis di lengan kiriku. Aku terkesiap setengah tidak percaya.
     “tiga puluh menit lagi!” gumamku kaget sehingga teman sebelahku menghentikan kegiatannya dan mendelik heran kepadaku. Cepat-cepat kukuasai keadaan.
     “maaf” singkatku, lagipula sepertinya orang di sebelahku tidak ingin berlama-lama mengamatiku.
      Lagi-lagi aku hanya terpaku menatap butir-butir soal itu, dan berlahan-lahan peluh dingin mulai membasahi tubuhku. Kepalaku mulai pening menyesali kebodohanku semalam. Tahu ketololan macam apa yang membuatku kali ini mati kutu tidak dapat berkutik. Meringkuk semalaman si kamar dengan segudang rasa malas. Rasa malas yang menyisipkan keinginan gila. Seandainya aku tidak begitu saja terbuai… ups terlambat, bodoh, aku memang bodoh. Kubanting pilot dalam genggamanku, mendengus panjang, namun tidak sampai mengusik ketentraman teman sebelahku. Sedang peluh dingin terus mengucur bersama berputarnya waktu.
      Mataku menatap jengkel pada pengawas ujian yang tidak lain adalah dosenku untuk mata kuliah ini, yang selalu siaga berkeliling mengawasi kalau-kalau ada mahasiswa yang berusaha untuk menyontek.
      Ujian mahasiswa sih kayak anak SD, pilihan ganda. Dah gitu buanyak buanget lagi! sumpah serapahku dalam hati.
      Sial… si bintang kelas masih bisa cengar-cengir mengerjakan soal keparat ini. Dadaku berdegup keras karena jengkel…, jengkel pada kebodohanku sendiri. Kubolak-balik lembaran soal itu agak panik sehingga menimbulkan suara berisik. Beberapa pasang mata tertuju kepadaku. Namun segera mungkin kualihkan perhatian berpura-pura serius menyelesaikan soal hitungan pada kertas buram. Berhasil… mereka tidak lagi mengawasi ketidakberdayaanku menyelesaikan soal. Kugigit bibirku kuat-kuat, namun tidak sampai berdarah, demi menutupi kegalauanku.
      “lima belas menit lagi!” suara dosenku yang super killer dengan perut gendutnya menggema ke seluruh sudut ruangan. Hampir kumenangis mendengarnya. Juraih kembali pulpen yang kulemparkan tadi. Aku tidak punya pilihan lagi. Gemetar tanganku merogoh gulungan kertas kecil yang tersembunyi di antara tempat pensil dan alat tulisku. Matku menyelidik ke sana ke mari. Aman! Ragu-ragu kubuka gulungan kertas berisi kunci jawaban yang sempat aku salin pagi tadi sebelum ujian dimulai. Mantap kubuka gulungan kertas itu dan menyalinnya dalam lembar jawaban milikku.
      Siapa suruh bikin soal ujian sama persis dengan soal kuis, pikir otakku membela diri. Namun tanpa kusadari, dosenku yang bertubuh gendut dengan kumis lebat yang menghias wajahnya itu sudah berdiri tepat di depan mejaku. Tanpa ba-bi-bu diambilnya lembar jawaban ujianku. Agak panik aku dibuatnya sehingga gulungan kertas contekan itu sempat terjatuh dari genggamanku sebelum akhirnya berpindah tangan.
      “Cepat keluar!” bentaknya dengan suara super lantangnya.
      Oh Tuhan, tidaaaakk! Tanpa ampun lagi dosen killer itu menghadiahiku angka nol besar. Tepat di tengah-tengah kertas ujian yang belum selesai kukerjakan.
      “Anda saya nyatakan tidak lulus untuk mata kuliah saya, selamat menikmati nilai E!” kata-katanya tidak selantang tadi tapi mampu membuatku jatuh ke dasar perut bumi.
      Tubuhku luluh lantak. Aku pun tak ingin kembali ke permukaan. Aku malu, jasadku begitu terhina. Juseret langkahku meninggalkan ruangan dengan kepala tertunduk. Hiruk pikuk mahasiswa yang selesai ujian hanya menambah kedalaman lukaku.
     "Gila lo ya, nyontek sampe ketahuan !” ujar Gito teman sekelasku.
     “katanya mahasiswa pantang menyontek, kesambet setan dari mana lo?” sindir Mugi.
     “Emang enak, sekalinya nyontek eh ketangkep basah. Selamat bersenang-senang dengan nilai E, ha…ha…ha…,” cetusOdi, temanku yang lain.
     "Hebat ya aktivis zaman sekarang, bisanya omdo, omong doang, kalau kepepet juga mau !" ejek Anton.
     Kepalaku yang panas semakin mendidih mendengar cemoohan teman-temanku. Aku marah, malu. Ingin rasanya kulumat mulut-mulut yang penuh bisa itu. Secepat kilat kurengkuh kerah baju Odi. Kepalang basah dengan semuanya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan title aktivis keislamanku.
     Badan Odi tersungkur. Tapi rupanya masalah belum selesai. Tiba-tiba dari samping kanan kiri, depan belakang aku dikeroyok puluhan mahasiswa. Bak buk bak buk. Wajahku remuk. Meski begitu tangan-tangan kokoh itu tak jua menghentikan pukulannya. Darah segar mengucur dari kening, kepala dan tubuh-tubuhku yang terluka. Pandanganku berkunang-kunang. Semua terasa begitu gelap.
     “tok…tok…Rian, sholat shubuh! Cepetan, katanya aktivis tapi shubuh kesiangan!” cerocos suara yang sangat aku kenal.
     Aku segera terjaga. Kupandangi sekeliling. Kamarku, tempat tidurku, komputer di sudut yang belum sempat kumatikan, lampu yang masih menyala terang. Semuanya masih sama sebelum… sebelum… aku bermimpi tadi. Hah? Mimpi? Pandanganku menerawang memastikan aku masih di alam nyata. Cepat kuraba tubuhku, normal. Tak ada sedikit pun yang terluka. Kepalaku juga tidak mengalir darah segar. Tapi napasku masih memburu.
     Tubuhku kembali terkulai lemas saat menyadari semuanya hanya mimipi. Perlahan kubaringkan kembali kepalaku di atas sebuah bantal empuk. butiran bening airmataku meleleh, tidak kuasa mengingat kembali mimpiku tadi. Tubuhku terasa berenang dalam samudera api yang menjilat, tananku menggapai minta tolong, namun tidak seorangpun menghiraukanku. Mataku seakan disuguhkan pemandangan mengerikan. Tubuh-tubuh terbakar dalam sobekan nilai buta yang di dapat dari hasil yang tidak benar. Sedangkan slide film terus saja memutar perbuatan curangku saat ujian.
     Astagfirullah. Gumamku pelan menyiratkan penyesalan tak berujung atas perbuatanku itu. aku menangis, tidak mampu meredam riak yang bergemuruh dalam dada. Tentang ketidakkuasaanku menghadapi siksaan Allah yang pedih atas perbuatanku demi nilai-nilai semu, demi kebanggaan dan kebahagiaan sesaat yang berakhir dengan siksa di alam sana. Lidahku yang kaku kembali melafazdkan istighfar, memohon ampun kepada Allah. Seandainya Allah tidak memberi mimpi ini, pastilah aku semakin tersesat.
      Aku bangkit, menuju kamar mandi, berwudhu. Kutunaikan sholat shubuh dengan penu kekhusukan. "Ya Robbi, aku baru saja berniat mencontek saat ujian nanti, Engjau langsung memaparkan beratnya siksa-Mu, meski lewat mimpi. Ampuni aku Allah. Aku tahu ini semua cara-Mu agar aku tidak terpeleset ke limbah kehinaan. Aku tahu, menyontek bukan solusi dari semua kelelahan batin ini saat harus berjibaku menghadapi ujian, tumpukan amanah dakwah di pundakku bukan pembenaran agar aku mengambil jalan pintas ini. Terima kasih Ya Allah, atas peringatan-Mu."

***
Cerpen ini merupakan penyempurnaan dari cerpen gue yang terdahulu dan Alhamdulillah cerpen ini sudah dipublikasikan di Majalah Sabili edisi 13 Th. XIV 11 Januari 2007 / 21Dzulhijah 1427.
Terima kasih buat suci dan kakaknya yang telah membantu menyempurnakan cerpen ini sekaligus mengirimkannya ke majalah Sabili.
Dan untuk teman-teman yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas semua do’a dan dukungannya. Jazakumullah khoirun katsir..

Posted by superone at January 23, 2007 |  sudah (1) komentar

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Next Page