|
Klo saja ga ada jaminan dari petugas yang ada di DPR mengenai biaya pembuatan SIM yang Cuma Rp. 75.000 plus Rp. 15.000 untuk asuransi gue juga ga bakal dateng ke Daan Mogot. Males aja gue berurusan dengan birokrasi, apalagi ini birokrasi kepolisisan. Udah bukan rahasia lagi kalo di sana banyak calo yang siap membantu kita tapi tentu saja dengan tambahan biaya yang selangit. Pusat informasi menjadi tempat pertama yang gue datangi, maklum gue ga tau apa-apa mengenai prosedur pembuatan SIM. Oleh petugas yang ada di pusat informasi gue Cuma di beri informasi tempat pembelian formulir dan asuransi bagi pemohon SIM Baru dan diminta menemuinya lagi setelah mengisi formulir. Setelah mengisi formulir gue pun kembali menemui petugas di pusat informasi. Setelah lapor kalo gue udah mengisi formulir petugas tadi menuliskan sesuatu di balik kertas surat kesehatan gue. Ternyata itu sebuah pesan agar gue menemui seseorang di salah satu loket yang ada di sana. Tanpa pikir panjang gue langsung menuju loket yang dimaksud. Setibanya di sana sudah bersiap seorang petugas yang menyambut gue dengan ramah. gue pun di minta masuk ke dalam ruangannya. Dalam ruangan itulah negosiasi dimulai. Dengan penuh percaya diri dia menawarkan bantuan kepada gue, dia memberi jaminan, dalam 2 jam, SIM gue bisa jadi tanpa harus cape-cape mengikuti tes teori dan tes praktek. Wow... mendapat bantuan seperti itu siapa yang ga mau. Hanya saja terpaksa gue tolak karena ternyata UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Tiga ratus lima puluh ribu rupiah uang yang harus gue keluarkan demi bantuan tersebut. Wah firasat gue bakal dipersulit di tes teori tiba-tiba muncul nih. Iseng-iseng sambil menunggu antrian pendaftaran tes teori, gue ambil HP dan kirim SMS ke Traffic Management Center (TMC) Polisi melalui layanan SMS ke nomor 1717 melaporkan adanya petugas yang menwarkan bantuan pembuatan SIM tanpa tes. Lengkap dengan nama dan loket tempatnya bertugas. Akhirnya firasat gue terbukti. Gue dinyatakan ga lulus tes teori dan harus mengulang dua minggu kemudian. Nilai gue Cuma 17, kurang satu poin lagi untuk bisa lulus sesuai Undang-Undang. Gue pikir perjuangan gue selesai sampai di situ dulu. Dua minggu lagi baru akan dimulai karena kesempatan kedua untuk mengikuti tes teori akan diberikan kepada gue. Ternyata gue salah. Sesampainya gue di kebon jeruk dalam perjalanan pulang, HP gue menjerit-jerit tanda ada orang yang menghubungi gue. Nomor tidak di kenal, males rasanya gue terima. Pengen cepet-cepet sampe rumah. Istirahat. Tapi tuh HP terus saja menjerit seakan tidak mau tau pemiliknya sudah terlalu lelah. Ini mas wawan ya? Tanya suara di ujung telpon sana setelah mengucap salam Ya. Jawab gue singkat Mas wawan baru saja ngurus SIM kan? Suara yang disana masih saja bertanya Ya memangnya kenapa” gue pun tak tahan untuk bertanya. Tapi sekarang saya dah di jalan mau pulang, lanjut saya tanpa menunggu jawaban Memangnya mas wawan sudah sampe mana? Bisa balik lagi ga ke sini. Saya mau bantu mas wawan nih Kurang ajar gumam gue dalam hati. Apa sudah sejauh ini calo-calo pembuat SIM mencari mangsa, “Memang bapak siapa? Kalo ujung-ujungnya duit makasih dah pak, saya ga butuh bantuan bapak” Ternyata orang yang diujung telpon sana tidak menyerah begitu saja. Setelah dia memperkenalkan diri, dia terus saja merayu gue untuk balik lagi dan mau menerima bantuannya. Dia pun berjanji tidak akan meminta uang sedikitpun kepada gue. Tetapi anehnya dia tidak mau menjelaskan bantuan seperti apa yang dia tawarkan kepada gue. Antara ragu dan penasaran, akhirnya gue memutuskan untuk balik lagi ke Daan Mogot. Niatnya sih pengen tau aja siapa sih orang yang menelpon gue barusan dan bantuan macam apa yang akan di tawarkan kepada gue. Soal SIM gue dah pasrah untuk mencobanya lagi sesuai prosedur yang berlaku. Setelah memarkir motor, gue pun langsung menelpon ke nomor yang digunakan oleh penelpon tadi untuk menghubungi gue. Beberapa detik kemudian, 2 sosok tinggi besar menghampiri gue. Ternyata orang itu adalah yang menelpon gue dan yang satunya adalah salah satu pimpinan di kantor penerbitan SIM Daan Mogot. Bersama 2 orang orang itu, gue menuju sebuah ruangan yang ternyata ruangan para pimpinan kantor bekerja. Waduh... ada apa nih kok gue sampe di bawa ke sini, tanya gue dalam hati. Gue coba menenangkan diri sambil mencoba untuk berpikir positif dengan segala kemungkinan yang terjadi di waktu-waktu yang akan gue alami sesaat lagi. bayangkan saja, saat itu gue dihadapkan pada 4 orang bertubuh tinggi besar dengan suara yang keras lagi tegas, hanya sedikit senyum dan berada dalam ruangan tertutup yang tidak terlalu luas Satu persatu pertanyaan mulai ditujukan ke gue. Sebisa mungkin gue jawab dengan tenang dan singkat. Gue ga mau sampe salah ngomong yang berakibat fatal bagi gue. Terus terang gue deg-degan abis. Untunglah suasananya semakin mencair dan pertanyaan yang ditujukan ke gue mulai bisa gue pahami maksudnya. Semua bersumber dari SMS laporan gue ke TMC. Walaupun pimpinan situ menyayangkan karena gue langsung melapor ke TMC tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke bagian pengaduan yang telah disediakan di sana beliau mengapresiasi kejujuran dan keberaninan gue untuk melapor. Atas informasi yang gue berikan gue pun mendapat hadiah dari beliau. Gue diberi kesempatan untuk mengikuti tes teori sekali lagi saat itu juga. Tapi sayang nilai gue 17 lagi. Namun sepertinya itu hanya formalitas saja karena setelah itu gue diminta untuk tes praktek. Lagi-lagi gue gagal karena menjatuhkan tiga pembatas. Seakan tidak peduli dengan hasil tes praktek yang gue jalani, gue pun di ajak ke ruangan untuk foto dan tanda tangan sebagai bagian akhir dari proses pembuatan SIM. Setelah itu gue dituntun untuk kembali lagi ke ruangan pimpinan. Disanalah gue menerima SIM atas nama Wawan Irawan dengan foto gue terpampang didalamnya. Walaupun badan sudah 4L (lelah, letih, lesu dan Laper) namun gue bahagia. Karena Allah masih melindungi gue. Gue yakin keberhasilan gue mendapatkan SIM tidak terlepas dari pertolongan Allah yang memberikan gue Hidayah untuk segera melaporkan praktek pencaloan yang gue ketahui. Kalo mendengar pengalaman temen yang sudah memiliki SIM, tidak sedikit dari mereka yang awalnya sangat idealis ingin mengurus SIM sesuai prosedur akhirnya harus mengeluarkan uang lebih juga untuk para calo. Satu hal yang salah mereka sikapi saat mengurus SIM adalah ketika mereka sadar bahwa praktek calo dalam pembuatan SIM adalah pelanggaran, mereka tidak melaporkannya. Mereka justru membiarkannya dengan anggapan itu adalah sesuatu yang wajar bahkan lebih parah lagi mereka justru memanfaatkannya dengan berbagai alasan yang sebenarnya terlalu mudah untuk dibantah. |
| Investasi June 17, 2009 09:57 AM PDT tapi sekarang bikin sim nggak pake pungli loh, terakhir waktu saya bayar pajak kamera cctv ada di mana2 loh, kasihan juga pelaku pungli nggak ada pendapatan lagi | ||
| Fachrie December 18, 2008 03:10 PM PST Selamat... pastinya sekarang lebih tenang kemana2 :-) | ||
| Leave a Comment: |