<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1" ?>
<rss version="0.91">
  <channel>
    <title>superone</title>
    <link>http://superone.blogdrive.com/</link>
    <description>superone</description>
    <lastBuildDate>Fri, 06 Mar 2009 08:55:00 PST</lastBuildDate>
    <generator>http://www.blogdrive.com</generator>
    <copyright>Copyright 2009.</copyright>
    <category>Muslim</category>
    <category>Friends</category>
    <category>Math &amp; Physics</category>
    <item>
      <title>persahabatan</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/79.html</link>
      <pubDate>Fri, 06 Mar 2009 01:51:16 GMT</pubDate>
      <description>Pekan ini bener-bener melelahkan... mulai dari kerjaan yang ga beres, rencana yang amburadul sampe fisik yang ngedrop! huh, tapi hidup harus terus berjalan, semangat harus terus dipompa dan tidak boleh ada kata menyerah...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Yang lalu biarlah berlalu, kini tinggal pinter-pinter mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada, jangan sampe mengulang kesalahan yang sama. Menyesal juga ga ada artinya, hanya menambah beban di dada...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tapi anehnya mengapa justru banyak yang minta maaf ke gue! Padahal jelas-jelas kesalahan ada di gue. Bukan maksud tuk menyalahkan diri sendiri sih, tapi jadi ga enak aja ma temen-temen yang ada disekitar gw seminggu ini jadi kebawa BT dan unjung-ujungnya doi minta maaf deh &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagi gue persahabatan itu ga mengenal minta maaf, yang ada hanyalah memaafkan karena keindahan persahabatan bukan karena kita sudah saling mengenal tapi setelah kita saling mengerti dan mau berkorban satu sama lainnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Manusia memang tempatnya dosa dan khilaf, tetapi seorang sahabat yang baik ialah yang mau memaafkan sebelum sahabatnya meminta maaf. Yang terucap hanyalah nasehat bukan caci maki sehingga ia nyaman tuk mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi...&lt;br&gt;&lt;br&gt;kapan yah sahabat sejatiku itu tiba, karena bagiku sahabat sejati hanya ada pada sosok istri yang sholehah...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ya Allah,&lt;br&gt;Jika ia masih jauh maka dekatkanlah...&lt;br&gt;Jika ia dekat maka pertemukanlah denganku...&lt;br&gt;Jika ia benar jodohku, maka mudahkanlah...&lt;br&gt;tapi...&lt;br&gt;Jika memang bukan jodohku maka jodohkanlah ia pada diriku...&lt;br&gt;(hehehe kok jadi maksa gini)&lt;br&gt;&lt;br&gt;just kidding!&lt;br&gt;hanya berusaha tuk menghibur diri sendiri &lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F79.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=79</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Bikin SIM euy...</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/78.html</link>
      <pubDate>Tue, 16 Dec 2008 08:29:42 GMT</pubDate>
      <description>Hari sabtu kemaren, berbekal surat keterangan kesehatan dari dokter di DPR gue beranikan diri dateng ke kantor penerbitan SIM di Daan Mogot untuk mengurus pembuatan SIM yang sempat tertunda karena kehabisan formulir waktu gue mengurusnya di gedung DPR. Jadi, selama tiga hari sejak rabu sampe jum’at kemaren  ada pelayanan pembuatan SIM komunitas di Gedung DPR. Hanya saja gue baru mengetahuinya di hari jum’at. Nah pas gue datang ke sana ternyata formulirnya udah abis. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Klo saja ga ada jaminan dari petugas yang ada di DPR mengenai biaya pembuatan SIM yang Cuma Rp. 75.000 plus Rp. 15.000 untuk asuransi gue juga ga bakal dateng ke Daan Mogot. Males aja gue berurusan dengan birokrasi, apalagi ini birokrasi kepolisisan. Udah bukan rahasia lagi kalo di sana banyak calo yang siap membantu kita tapi tentu saja dengan tambahan biaya yang selangit.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pusat informasi menjadi tempat pertama yang gue datangi, maklum gue ga tau apa-apa mengenai prosedur pembuatan SIM. Oleh petugas yang ada di pusat informasi gue Cuma di beri informasi tempat pembelian formulir dan asuransi bagi pemohon SIM Baru dan diminta menemuinya lagi setelah mengisi formulir. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah mengisi formulir gue pun kembali menemui petugas di pusat informasi. Setelah lapor kalo gue udah mengisi formulir petugas tadi menuliskan sesuatu di balik kertas surat kesehatan gue. Ternyata itu sebuah pesan agar gue menemui seseorang di salah satu loket yang ada di sana. Tanpa pikir panjang gue langsung menuju loket yang dimaksud. Setibanya di sana sudah bersiap seorang petugas yang menyambut gue dengan ramah. gue pun di minta masuk ke dalam ruangannya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Dalam ruangan itulah negosiasi dimulai. Dengan penuh percaya diri dia menawarkan bantuan kepada gue, dia memberi jaminan, dalam 2 jam, SIM gue bisa jadi tanpa harus cape-cape mengikuti tes teori dan tes praktek. Wow... mendapat bantuan seperti itu siapa yang ga mau. Hanya saja terpaksa gue tolak karena ternyata UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Tiga ratus lima puluh ribu rupiah uang yang harus gue keluarkan demi bantuan tersebut. Wah firasat gue bakal dipersulit di tes teori tiba-tiba muncul nih. Iseng-iseng sambil menunggu antrian pendaftaran tes teori, gue ambil HP dan kirim SMS ke Traffic Management Center (TMC) Polisi melalui layanan SMS ke nomor 1717 melaporkan adanya petugas yang menwarkan bantuan pembuatan SIM tanpa tes. Lengkap dengan nama dan loket tempatnya bertugas. Akhirnya firasat gue terbukti. Gue dinyatakan ga lulus tes teori dan harus mengulang dua minggu kemudian. Nilai gue Cuma 17, kurang satu poin lagi untuk bisa lulus sesuai Undang-Undang.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Gue pikir perjuangan gue selesai sampai di situ dulu. Dua minggu lagi baru akan dimulai karena kesempatan kedua untuk mengikuti tes teori akan diberikan kepada gue. Ternyata gue salah. Sesampainya gue di kebon jeruk dalam perjalanan pulang, HP gue menjerit-jerit tanda ada orang yang menghubungi gue. Nomor tidak di kenal, males rasanya gue terima. Pengen cepet-cepet sampe rumah. Istirahat. Tapi tuh HP terus saja menjerit seakan tidak mau tau pemiliknya sudah terlalu lelah.&lt;br&gt;Ini mas wawan ya? Tanya suara di ujung telpon sana setelah mengucap salam&lt;br&gt;Ya. Jawab gue singkat&lt;br&gt;Mas wawan baru saja ngurus SIM kan? Suara yang disana masih saja bertanya&lt;br&gt;Ya memangnya kenapa” gue pun tak tahan untuk bertanya. Tapi sekarang saya dah di jalan mau pulang, lanjut saya tanpa menunggu jawaban &lt;br&gt;Memangnya mas wawan sudah sampe mana? Bisa balik lagi ga ke sini. Saya mau bantu mas wawan nih&lt;br&gt;Kurang ajar gumam gue dalam hati. Apa sudah sejauh ini calo-calo pembuat SIM mencari mangsa, “Memang bapak siapa? Kalo ujung-ujungnya duit makasih dah pak, saya ga butuh bantuan bapak” &lt;br&gt;Ternyata orang yang diujung telpon sana tidak menyerah begitu saja. Setelah dia memperkenalkan diri, dia terus saja merayu gue untuk balik lagi dan mau menerima bantuannya. Dia pun berjanji tidak akan meminta uang sedikitpun kepada gue. Tetapi anehnya dia tidak mau menjelaskan bantuan seperti apa yang dia tawarkan kepada gue.&lt;br&gt;Antara ragu dan penasaran, akhirnya gue memutuskan untuk balik lagi ke Daan Mogot. Niatnya sih pengen tau aja siapa sih orang yang menelpon gue barusan dan bantuan macam apa yang akan di tawarkan kepada gue. Soal SIM gue dah pasrah untuk mencobanya lagi sesuai prosedur yang berlaku.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah memarkir motor, gue pun langsung menelpon ke nomor yang digunakan oleh penelpon tadi untuk menghubungi gue. Beberapa detik kemudian, 2 sosok tinggi besar menghampiri gue. Ternyata orang itu adalah yang menelpon gue dan yang satunya adalah salah satu pimpinan di kantor penerbitan SIM Daan Mogot. Bersama 2 orang orang itu, gue menuju sebuah ruangan yang ternyata ruangan para pimpinan kantor bekerja. Waduh... ada apa nih kok gue sampe di bawa ke sini, tanya gue dalam hati. &lt;br&gt;Gue coba menenangkan diri sambil mencoba untuk berpikir positif dengan segala kemungkinan yang terjadi di waktu-waktu yang akan gue alami sesaat lagi. bayangkan saja, saat itu gue dihadapkan pada 4 orang bertubuh tinggi besar dengan suara yang keras lagi tegas, hanya sedikit senyum dan berada dalam ruangan tertutup yang tidak terlalu luas&lt;br&gt;&lt;br&gt;Satu persatu pertanyaan mulai ditujukan ke gue. Sebisa mungkin gue jawab dengan tenang dan singkat. Gue ga mau sampe salah ngomong yang berakibat fatal bagi gue. Terus terang gue deg-degan abis. Untunglah suasananya semakin mencair dan pertanyaan yang ditujukan ke gue mulai bisa gue pahami maksudnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Semua bersumber dari SMS laporan gue ke TMC. Walaupun pimpinan situ menyayangkan karena gue langsung melapor ke TMC tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke bagian pengaduan yang telah disediakan di sana beliau mengapresiasi kejujuran dan keberaninan gue untuk melapor. Atas informasi yang gue berikan gue pun mendapat hadiah dari beliau. Gue diberi kesempatan untuk mengikuti tes teori sekali lagi saat itu juga. Tapi sayang nilai gue 17 lagi. Namun sepertinya itu hanya formalitas saja karena setelah itu gue diminta untuk tes praktek. Lagi-lagi gue gagal karena menjatuhkan tiga pembatas. Seakan tidak peduli dengan hasil tes praktek yang gue jalani, gue pun di ajak ke ruangan untuk foto dan tanda tangan sebagai bagian akhir dari proses pembuatan SIM. Setelah itu gue dituntun untuk kembali lagi ke ruangan pimpinan. Disanalah gue menerima SIM atas nama Wawan Irawan dengan foto gue terpampang didalamnya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Walaupun badan sudah 4L (lelah, letih, lesu dan Laper) namun gue bahagia. Karena Allah masih melindungi gue. Gue yakin keberhasilan gue mendapatkan SIM tidak terlepas dari pertolongan Allah yang memberikan gue Hidayah untuk segera melaporkan praktek pencaloan yang gue ketahui.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kalo mendengar pengalaman temen yang sudah memiliki SIM, tidak sedikit dari mereka yang awalnya sangat idealis ingin mengurus SIM sesuai prosedur akhirnya harus mengeluarkan uang lebih juga untuk para calo. Satu hal yang salah mereka sikapi saat mengurus SIM adalah ketika mereka sadar bahwa praktek calo dalam pembuatan SIM adalah pelanggaran, mereka tidak melaporkannya. Mereka justru membiarkannya dengan anggapan itu adalah sesuatu yang wajar bahkan lebih parah lagi mereka justru memanfaatkannya dengan berbagai alasan yang sebenarnya terlalu mudah untuk dibantah. &lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F78.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=78</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Ibu Ita, Sosok Pemerhati Anak Yatim</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/77.html</link>
      <pubDate>Mon, 17 Nov 2008 05:44:06 GMT</pubDate>
      <description>Berawal dari kepekaan seorang guru SD yang melihat muridnya tidak lagi mampu untuk meneruskan pendidikan dikarenakan faktor biaya. Hosrita Yusda, sang guru tersebut mulai mencarikan beasiswa bagi murid-muridnya yang berprestasi serta anak-anak yatim yang bersekolah di tempatnya mengajar. Mulai dari bergerilia mendatangi orangtua siswa yang tergolong kaya raya sampai &lt;i&gt;door to door&lt;/i&gt; “menodong” teman-temannya, dia lakukan untuk mengumpulkan lembaran demi lembaran rupiah guna membantu murid-muridnya yang terancam putus sekolah. Tidak sampai di situ saja, instansi-instansi pemerintah maupun swasta pun dijajaki guna mencari peluang beasiswa bagi murid-muridnya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Alhamdulillah Allah membuka jalan. Seiring waktu yang berlalu, orang tua siswa dan teman-teman ibu ita, sapaan akrab ibu Hosrita Yusda, yang sejak awal telah membantu, semakin percaya dan simpati dengan gerak langkah ibu Ita. Satu persatu dari mereka pun menyatakan diri siap menjadi donatur bagi perjuangan Ibu Ita. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Seperti air yang mengalir, jumlah anak yatim yang awalnya hanya 10 orang kini terus bertambah. Tidak hanya terbatas dari sekolah tempat beliau mengajar, anak-anak yatim yang berada di sekitar tempat tinggalnya pun mulai mendapat bantuannya. Bahkan anak-anak dari kelompok pemilah barang bekas (KPB2/Pemulung) juga mendapat perhatiannya. Berkat usahanya, anak-anak KPB2 mulai mau bersekolah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Seiring dengan jumlah anak yatim, dhuafa dan KPB2 yang di asuhnya terus bertambah serta kesadaran ibu ita akan pentingnya ilmu, beliau pun mulai merekrut teman-temannya untuk menjadi relawan bersama beliau guna membina dan mendidik anak-anak asuhnya. Puncaknya pada tahun 2004, dimotori oleh bapak Djanusa, suami ibu ita, didirikanlah sebuah yayasan yatim piatu non panti yang menjadi wadah perjuangan ibu ita dan teman-temannya untuk terus membina dan mendidik anak-anak yatim, dhu’afa dan KPB2. Rumah beliau didaulat menjadi sekretariat dan pusat kegiatan yayasan. Ruang tamu menjadi sekretariat dan halaman rumahnya hanya berukuran 6 x 6 m disulap menjadi tempat pembinaan dan anak-anak asuhnya belajar. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Perjuangan yang ia mulai sejak tahun 1998 hingga kini terus berjalan, yayasan yang ia pimpin juga terus berkembang. Hanya saja separuh dari nafasnya kini telah pergi. Sang suami yang siang dan malam menjadi tempat peraduannya ketika lelah, tempat berbagi ketika bahagia, dan aktor dibalik semangat dan kerja keras Ibu Ita kini telah berpulang ke rahmatullah. Semoga Amal Ibadah Almarhum di terima oleh Allah dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Amin...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ibu Ita, Ayo kita teruskan perjuangan ini. Kami siap membantu dengan segala apa yang kami miliki. Semoga Allah ridho dengan setiap langkah kita untuk terus berbagi dengan mereka yang kurang mampu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Untuk para pengunjung blog ini, kami tunggu uluran tangan anda!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;br&gt;Yayasan Kasih Ibu La Tansa&lt;br&gt;Jl. H. Mukhtar Raya Rt.10/01 No.44&lt;br&gt;Petukangan Utara. Jakarta Selatan &lt;br&gt;Telp. 5863424, 021 70739300&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F77.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=77</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Roda Kehidupan</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/76.html</link>
      <pubDate>Fri, 14 Nov 2008 01:24:28 GMT</pubDate>
      <description>Hidup memang seperti roda, terus saja berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Semua mendapat giliran. Sebentar senang sebentar kemudian bersedih. Bentar marah bentar lagi juga tertawa. Pagi penuh ketakwaan, siang harinya, jatuh ke dalam jurang kenistaan. Itulah hidup. Penuh misteri. Tidak ada yang pernah bisa menduganya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Namun sebagai makhluk yang beriman kepada Allah SWT. Semua adalah anugrah. Sesuatu yang hadir untuk mewarnai kehidupan kita sehingga penuh makna. Takdir yang telah disesuaikan kadarnya dengan kemampuan kita, sehingga tidak boleh ada kata putus asa. Sikap terbaik hanyalah bersyukur ketika bahagia dan bersabar ketika mendapat musibah. Selain itu hanyalah kesia-siaan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Setiap kita memiliki peran yang berbeda tetapi satu jua yang ingin kita raih; keridhoan Allah atas semua peran yang kita pilih hingga akhirnya Allah mengizinkan kita menikmati surga-Nya kelak di ahirat. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tidak dapat dipungkiri hambatan dan rintangan selalu menghiasi setiap langkah kita. Namun yakinlah itu hanyalah cara Allah untuk menaikkan derajat kita sebagaimana ujian kenaikan kelas yang selalu kita lalui selama menempuh pendidikan formal di sekolah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Tetapi bentuk kasih sayang Allah agar kita lebih siap lagi menerima kemenangan yang sesungguhnya. Jangan sampai kesuksesan yang kita raih hanyalah bentuk penundaan azab Allah atas segala dosa yang kita perbuat karena telah menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan tersebut. Jadikanlah setiap detik dari kegagalan kita terlebih lagi keberhasilan kita untuk tetap bersyukur dan menginstropeksi diri. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Semoga Allah selalu melindungi kita dari segala tipu daya Syetan yang terkutuk dan meridhoi segala aktivitas kita di setiap episodenya hingga akhirnya takdir menghentikannya dan Allah berkenan menempatkan kita di surga-Nya. Amin... &lt;br&gt;&lt;br&gt;Teriring salam dan do’a untuk semua sahabat dan seluruh rekan-rekan para blogger. Ayo kita hiasi dunia ini dengan karya terbaik kita! &lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F76.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=76</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Babak baru</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/75.html</link>
      <pubDate>Tue, 11 Nov 2008 03:21:16 GMT</pubDate>
      <description>Akhirnya rasa itu terjawab. Kegundahan gue belakangan ini hanyalah masalah keikhlasan. Keikhlasan hati gue dalam menjalani babak-babak baru dari setiap permasalah hidup yang harus gue jalani setiap episodenya. Rasa bosan dan jenuh yang gue rasakan walaupun hanya sedikit benar-benar dimanfaatkan oleh syetan yang terkutuk untuk mengobrak-abrik hati gue. Sepertinya makhluk keturunan iblis itu tau persis kapan saatnya ia menyerang gue dengan telak ke titik terlemah gue. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sejak setahun yang lalu ketika gue sudah mulai suntuk dengan skripsi gue. Gue coba cari kegiatan baru. Awalnya sih, gue cuma ingin mengalihkan ketidakberdayaan gue menghadapi tugas akhir yang satu itu dengan kegiatan-kegiatan positif agar gue ga semakin stress aja. Karena waktu itu gue bener-bener hampir putus asa. Ada aja hambatan yang memaksa gue menunda penyelesaian skripsi gue. Mulai dari Hardisk rusak, komputer kena virus, sampe data-data gue hilang semua. Mulai dari cuma pusing-pusing kelamaan di depan komputer, muntah-muntah karena memaksakan begadang nyelesaiin skripsi sampe harus istirahat total karena sakit yang semakin parah. Hingga akhirnya gue putusin untuk menunda kembali skripsi gue. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Gayung pun bersambut. Gue mendapat tawaran untuk jadi sekretaris di sebuah yayasan yatim piatu. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumah, waktu kerja yang fleksibel karena ga harus dateng tiap hari membuat gue tidak keberatan untuk menerima tawaran tersebut. Sebulan dua bulan gue mulai beradaptasi dengan pola kerja di yayasan tersebut. Alhamdulillah hingga saat ini gue masih dipercaya untuk membantu di yayasan tersebut. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sejak saat itu, hari-hari gue memang banyak dihabiskan dengan kegiatan yayasan. Suka dukanya bener-benar gue nikmati hingga akhirnya misi pengalihan gue bener-bener sukses. Hanya saja efek sampingnya gue jadi ‘terikat’ dengan yayasan. Ketergantungan yayasan dengan sosok gue bener-bener gue rasakan. Sekitar 4 bulan yang lalu, sebenarnya gue sudah mendapat izin kalo setelah idul fitri ini gue bisa “off” dari yayasan agar bisa fokus lagi di skripsi. Hanya saja di bulan Ramadhan yang lalu, pembina yayasan sekaligus suami dari Ketua Yayasan kami, berpulang ke Rahmatullah. Sosok beliau yang menjadi motor utama penggerak yayasan kini beralih ke gue. Ketua yayasan pun berharap penuh kapada gue. Ini yang membuat gue dilematis. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Di saat gue sedang fokus dengan skripsi, gue selalu terganggu dengan kerjaan Yayasan dan sebaliknya ketika gue sedang di yayasan pikiran tentang skripsi tiba-tiba aja muncul. Ga cuma itu, murid yang les privat sama gue juga kena imbasnya. Beberapa kali gue harus ngajar tanpa persiapan yang memadai. Beberapa kali pula gue mati kutu karena tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Inilah babak baru dari kehidupan gue yang harus gue jalani. Tantangan terberat yang harus gue jawab adalah mensinergikan ketiga aktivitas utama gue: meraih gelar sarjana yang sempat tertunda, memberikan yang terbaik untuk yayasan dan sukses membantu murid-murid gue meraih prestasi akademiknya. Semoga saja gue bisa menjawab semua tantangan tersebut. Amin...&lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F75.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=75</comments>
    </item>
    <item>
      <title>BETE</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/74.html</link>
      <pubDate>Wed, 05 Nov 2008 09:30:05 GMT</pubDate>
      <description>Memasuki pekan ini hati rasanya gundah banget. Ga tau deh, pokoknya bete aja. Mo ngerjain ini males ngerjain itu males. Emang sih badan rasanya pada ga enak, pegel-pegel gitu deh. tapi kayanya yang begini udah biasa kali. Maklum klo akhir pekan emang rada sibuk.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah ga tau mo ngapain lagi, senin kemarin gue tidur aja seharian. Bayangin aja selepas jam 9.00 gue udah tidur dan baru bangun jam 14.00. Tersadar belum sholat, buru-buru aja deh sholat zuhur dan langsung makan siang. Ga nyangka, tidur aja bikin laper. Abis ashar, badan bukannya tambah enak, malah pada sakit. Ya udah gue rebahan aja sambil nonton TV. Ga lama gue pun udah  sampe di alam mimpi lagi. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Beda lagi sama kemaren (selasa). Bosan di rumah aja, jam 9.00 gue dah cabut. awalnya sih ga tau mo kemana, yang penting ga di rumah. Dengan mengendarai Yamaha Vega DB yang belum genap sebulan gue miliki, akhirnya gue cuma muter-muter aja tuh. mulai dari joglo ke ciledug, terus balik arah ke kreo. Pelan-pelan menelusuri jalan Ciledug Raya akhirnya sampe juga di pasar Bayoran lama. Belok kiri menuju pos pengumben dan langsung ngebut ke kebon jeruk, terus ke meruya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;menjelang zuhur gue putusin tuk ke blok M. mampir dulu di Masjid Agung Al Azhar tuk sholat. abis makan gado-gado lontong langganan klo lagi ke kampus, gue jalan kaki ke Gramedia Blok M. Sempet juga sih ke gunung agung yang di Blok M Plaza. Lumayan sih setelah &lt;i&gt;hunting&lt;/i&gt; sana sini dapet juga buku yang cocok tuk referensi skripsi gue, tapi sayang belum bisa beli. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika adzan ashar berkumandang, &lt;i&gt;alhamdulillah&lt;/i&gt; dah sampe lagi di Masjid Agung Al Azhar. Abis sholat ashar langsung aja cabut, balik ke rumah. Di perjalanan ujan deres banget. untung sih bawa jaket ujan tapi tetep aja kedinginan. Sampe rumah kepala rasanya berat buanget. malemnya badan meriang, panas dingin. untung Murid privat gue yang malan itu, minta off dulu. so, gue bisa istirahat deh. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Seperti biasa, pagi ini gue harus nganterin ade gue yang paling kecil ke sekolahnya. Sejak gue kredit motor, tuh anak ga mo lagi ke sekolah jalan kaki. Mo ga mo gue harus nganterin. Pulang nganterin adik, sarapan dulu karena setelah itu gue harus pergi lagi. Kini giliran kakak gue yang minta anterin ke TK, tempat dia ngajar. udah 3 pekan setiap pagi gue jadi tukang ojek dadakan. Bedanya gue ga dapet bayaran, maklum pelanggannya saudara sendiri.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ga beda sama hari-hari sebelumnya, hari ini gue juga masih dipusingkan dengan kondisi hati gue yang masih ga jelas. Bete banget tau! baca buku, ga masuk-masuk tuh ilmunya. Review skripsi malah tambah pusing. Main game komputer tambah suntuk, abis kalah mulu. Akhirnya gue tidur aja deh. Selepas zuhur gue cabut dari rumah. Muter-muter lagi di jalanan, kali ini survei jalan-jalan tikus yang enak tuk dijadiin jalur alternatif. maklum belom punya SIM jadi selain menghindari macet dan polusi, gue juga harus menghindar dari polisi. &lt;br&gt;&lt;br&gt;abis ashar masih layu and ga semangat gitu. dari pada tambah bete gue mampir aja di warnet. buka blog dan curhat deh ma temen-temen semua di sini. sebenernya sih masih banyak yang mo dicurhatin tapi kapan-kapan aja ya. sedikit-sedikit aja, ntar klo blog ini isinya curhatan semua, bisa ente yang bete bacanya...&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F74.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=74</comments>
    </item>
    <item>
      <title>kangen...</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/73.html</link>
      <pubDate>Fri, 31 Oct 2008 04:04:52 GMT</pubDate>
      <description>Duh sedih rasanya, ketika hari ini ngelihat blog-ku...&lt;br&gt;Ternyata hampir setaon dah ngga gue update, padahal dulu... Gue punya mimpi besar tuk bisa jadi penulis. Bikin blog, biar termotivasi latihan menulis. Pamer karya, biar bisa dinikmati orang banyak, mudah-mudahan bermanfaat dan memberi inspirasi...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tapi kini... Hanya meninggalkan rasa yang hampir tak tersisa...&lt;br&gt;Rasa kangen tuk bisa menggoyangkan lagi jari lentik ini di atas keyboard, menghasilkan rangkaian kata penuh hikmah dan mempersembahan cinta yang terindah...&lt;br&gt;Rasa rindu di hati tuk bertegur sapa walau hanya lewat kata. Membaca komentar, kritik dan saran yang singgah di blog ini...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Terima kasih sobat. kamulah pelipur lara, pembangkit semangat dan pendamping yang setia...&lt;br&gt;Terima kasih karena tetap mengunjungi blog ini dan meninggalkan jejak kebaikan...&lt;br&gt;Terima kasih atas segala do'a dan harapan yang terbersit dalam hati, terucap dengan lisan atau terukir lewat kata...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Maafkan aku yang tak sempurna...&lt;br&gt;Maafkan aku yang tak berdaya...&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saat ini kita berjumpa, semoga bukan yang terakhir...&lt;br&gt;Aku kangen... I Miss You, My Friend... &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F73.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=73</comments>
    </item>
    <item>
      <title>skripsiku sayang, skripsiku malang</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/72.html</link>
      <pubDate>Mon, 03 Dec 2007 08:11:15 GMT</pubDate>
      <description>&lt;p&gt;&amp;quot;Wan gmn skripsi lu?&amp;quot;&lt;br&gt;
&amp;quot;Dah lulus belom?&amp;quot;&lt;br&gt;
&amp;quot;Kapan sidang?&amp;quot;&lt;br&gt;
&amp;quot;Emang lagi sibuk apa sih?&amp;quot;&lt;br&gt;
&amp;quot;Sayang loh tinggal selangkah lagi?&amp;quot;&lt;br&gt;
dan bla… bla…&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Setahun belakangan ini pertanyaan-pertanyaan itu mulai akrab ditujukan ke gue, 
baik yang cuma basa-basi maupun yang serius ingin tahu. Dari yang cuma sms 
sampai yang rela menelpon ke HP. Bahkan tidak sedikit pula dari mereka yang 
memberi nasehat dan motivasi setelah tahu gue belum juga menyelesaikan skripsi. 
Sampai-sampai ada seorang temen yang menjadikan kelulusan gue sebagai syarat 
ketika gue meminjam uang ke dia. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
“Soal bayarnya jangan terlalu ente pikirin! kalo semester ini ente lulus, ente 
bisa bayar utang ente ke ane kapan aje sampe ente dapet kerjaan. Tapi kalo 
semester ini ente belum juga lulus, awal semester depan utang ente ke ane harus 
udah ente lunasin semuanye”. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Antara terdesak dengan kebutuhan dan keinginan untuk cepat lulus, akhirnya gue 
setujui persyaratan itu. Gue pun mendapatkan dua keuntungan sekaligus dari 
kesepakatan ini. Pertama gue dapat uang untuk mengurus administrasi perpanjangan 
skripsi &lt;i&gt;plus &lt;/i&gt;denda karena semester sebelumnya tidak gue urus dan yang 
kedua gue bisa melanjutkan skripsi gue dengan tambahan motivasi untuk bisa lulus 
semester ini. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Semua berjalan lancar, bahkan hampir tidak ada hambatan yang gue anggap berarti. 
Gue begitu &lt;i&gt;enjoy &lt;/i&gt;menikmati hari demi hari walaupun cuma berkutat dengan 
buku dan komputer, hingga akhirnya “&lt;a href=&quot;http://superone.blogdrive.com/archive/71.html&quot;&gt;tragedi&lt;/a&gt;” itu terjadi. 
komputer gue &lt;i&gt;hang&lt;/i&gt; dan tidak bisa membaca hardisk. Karena takut data-data 
skripsi gue hilang, gue pun segera minta bantuan temen untuk memperbaikinya. &lt;i&gt;
Alhamdulillah &lt;/i&gt;data-data bisa diamankan karena yang rusak hanya &lt;i&gt;windows&lt;/i&gt;-nya 
saja. Setelah di install ulang, semua kembali normal. Hanya saja dua minggu 
waktu gue terbuang sia-sia. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Hari-hari selanjutnya, gue kembali larut dalam aktivitas menyusun skripsi. Cari
&lt;i&gt;literature&lt;/i&gt;, baca buku dan duduk berlama-lama di depan komputer menyusun 
huruf demi huruf menjadi rangkaian kata dan kalimat. Hanya saja kali ini gue 
kerja lebih ektra karena harus mengganti waktu dua minggu yang terbuang. 
Begadang sampai lewat tengah malam akhirnya menjadi rutinitas gue sejak saat itu.
&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Kelelahan fisik dan pikiran tidak gue hiraukan lagi. Yang ada di otak gue saat 
itu, gue harus lulus semester ini. Akibatnya badan gue meminta paksa haknya 
untuk istirahat. Tiga hari lamanya gue terbaring lemah tidak berdaya. Namun 
setelah itu, walaupun fisik gue sudah membaik, ternyata gue belum bisa berpikir 
terlalu rumit. Gue jadi mudah pusing dan mual-mual kalau berlama-lama baca buku 
dan duduk di depan komputer. Untunglah batas akhir pengajuan sidang diperpanjang 
satu bulan lebih. Daripada tidak maksimal akhirnya gue putuskan untuk istirahat 
total guna memulihkan fisik dan pikiran gue. &lt;i&gt;Refresing &lt;/i&gt;menjadi agenda gue 
saat itu. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Setelah benar-benar pulih, gue pun kembali melanjutkan menyusun skripsi. Namun 
apa daya, manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang memutuskan semuanya. 
Komputer gue kena virus dan terpaksa harus di install ulang. File-file word, 
termasuk skripsi gue rusak dan &lt;i&gt;backup &lt;/i&gt;di flash disk juga sudah terlebih 
dahulu hilang karena kena virus. Padahal gue belum sempat menyimpanya di CD dan 
internet. waktu yang tersisa coba gue maksimalkan. Semakin hari pikiran gue 
semakin tegang. Yang terbayang bukan lagi skripsi, tapi hutang yang harus gue 
bayar di akhir semester. Akibatnya gue sulit untuk konsentrasi dan selama duduk 
di depan komputer lebih banyak bengongnya daripada mengetiknya. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Batas waktu yang ditentukan berakhir sudah tapi skripsi gue masih belum 
terselesaikan. Gue gagal untuk lulus semester itu. Uang untuk bayar hutang pun 
tidak ada. Gue semakin kacau dan tidak tahu harus berbuat apa. Waktu yang 
berlalu, gue biarkan mengalir seperti air. Diri ini pun gue biarkan ikut 
terhanyut dalam aliran itu. Mengalir terbawa arus waktu. Hingga akhirnya aliran 
waktu membawa gue pada kondisi untuk melupakan sementara skripsi dan 
berkonsentrasi untuk mencari uang tambahan guna membayar hutang dan mengurus 
administrasi perpanjangan skripsi untuk yang ketiga kalinya.&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Kini, sebulan sudah gue berusaha keras untuk kembali berkonsentrasi pada skripsi. 
Namun setiap kali gue mulai membaca buku dan &lt;i&gt;literature-literature&lt;/i&gt; yang 
berhubungan dengan skripsi gue, yang ada hanya kepala gue jadi pusing. Semakin 
dipaksakan rasanya semakin mau pecah dan ujung-ujungnya perut gue jadi mual-mual. 
Nah, kalo sudah begini jangankan untuk konsentrasi, untuk duduk saja gue tidak 
kuat. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Huh...! kalo begini terus kapan gue bisa lulus ya...? Padahal gue sudah mulai bosan dengan segala pertanyaan seputar kelulusan gue, gue juga sudah tidak sabar untuk melepas status gue sebagai mahasiswa. Namun apa daya, ketika mengingat semua ini, yang ada tinggallah asa yang semakin menghilang. 
&lt;/p&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F72.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=72</comments>
    </item>
    <item>
      <title>ujian itu, akhirnya datang juga!</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/71.html</link>
      <pubDate>Tue, 26 Jun 2007 08:32:54 GMT</pubDate>
      <description>“Wan, bangun wan, katanya mo pergi pagi-pagi?” suara ibu gue yang coba membangunkan gue sambil menggoyang-goyangkan tubuh gue. &lt;br&gt;Dengan mata yang masih agak berat, gue lirik jam di ponsel gue yang memang terletak tidak jauh dari tempat gue tidur. Hah dah jam 8.30! &lt;br&gt;“HP lu, bunyi tuh dari tadi!” &lt;br&gt;“Iya mak. Cuma alarm” gue coba jelaskan kepada ibu gue yang memang ga mengerti dengan suara ringtone yang keluar dari HP gue. Beliau taunya kalo HP bunyi berarti ada yang nelpon. Maklum wong deso.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tanpa pikir panjang langsung gue menuju kamar mandi tuk cuci muka dan gosok gigi. Mandinya? nanti aja la yau. Setelah itu gue kembali ke kamar dan menghidupkan komputer. Gue buka folder dengan nama skripsi dan mengklik dua kali pada file yang gue kasih nama BAB III. Gue pun mulai sibuk membaca setiap baris kalimat yang muncul di layar monitor. Sesekali jari gue menari di atas keyboard untuk mengedit file tersebut. Setengahnya jam berlalu gue simpan file BAB III dan membuka file BAB IV. Hal yang sama pun gue lakukan padanya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Perlakuan yang sama belum tentu menghasilkan sesuatu yang sama pula. Begitulah yang gue alami pagi itu. Niatnya sih pengen ngedit persamaan matematikanya. Entah kenapa setelah gue klik dua kali, bukannya muncul lembar kerja equation, fasilitas MS word untuk memudahkan menulis persamaan matematika dengan berbagai simbol matematikanya. Eh komputer gue malah hang. Kursor tidak bisa di pindahkan, keyboard tidak berfungsi. Setelah beberapa menit menunggu ternyata tidak ada perubahan. Coba tekan tombol ctrl + alt + Del secara bersama-sama, tidak juga ada reaksi. Seharusnya window task manager muncul, tapi kali ini tidak terjadi apa-apa.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pilihan terakhir pun gue ambil. Tombol reset pada CPU pun gue tekan. Komputer mati untuk restart ulang. Sambil menunggu komputer booting gue keluar kamar sebentar. Ngambil air. Setelah balik ke kamar, layar monitor gue jadi gelap dengan dua baris tulisan berbahasa inggris di bagian atasnya. Sepertinya permintaan memasukan disk ke booting device yang dilanjutkan dengan menekan sembarang tombol. Karena gue ga tau maksudnya gue pun langsung menekan sembarang tombol di keyboard. Yang terjadi Cuma muncul kalimat yang sama, sehingga kini menjadi empat baris dan begitu seterusnya ketika sembarang tombol ditekan. Tombol reset pun kembli gue tekan. Hasilnya tetap sama. Melihat kondisi seperti itu gue mulai panik. Gue ambil CD windows XP dan memasukkannya ke CD Room. Gue pun pasrah klo harus menginstall ulang. (suuutts, tapi jangan bilang siapa-siapa yah kalo CD-nya bajakan).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Proses instalasi pun berjalan, namun tidak lama kemudian berhenti. Ternyata windows tidak bisa mendeteksi hard disk gue. Hah, gue semakin panik. Hard disk gue rusak! Tapi gue belum yakin 100%. Komputer pun gue reset kembali. Ternyata benar hard disk tidak terdeteksi. Dengan harapan tidak terjadi apa-apa, gue pun mengujinya di komputer saudara. Hasilnya tetap sama. Hard disk gue tidak terdeteksi. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Deg. Hanya kata-kata itu yang selanjutnya keluar dari mulut gue. Hasil ketikan gue semalaman suntuk hilang begitu saja. BAB I sampe IV yang sudah selesai gue edit untuk selanjutnya dikonsultasiin ke pembimbing senin kemarin terpaksa tertunda, entah sampe kapan. Padaal gue sudah tidak mempunyai banyak waktu untuk bisa menyelesaikannya semester ini. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Harapan terakhir, semoga hard disk gue tidak rusak secara fisik dan data-data didalamnya dapat diselamatkan. Karena isinya bukan hanya skripsi, tapi juga dokumen bisnis gue, padahal semua itu baru saja berjalan. Ya Allah ampuni dosa-dosa hambamu ini.. semoga ini hanyalah ujian dari-Mu dan bukanlah teguran apalagi azab-Mu atas dosa-dosa hamba. Berilah hamba kekuatan untuk bisa menghadapinya, serta mudahkanlah segala urusan hamba. Amin&lt;br&gt;&lt;br&gt;Teriring do’a untuk teman-teman yang juga mengalami hal yang sama. &lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F71.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=71</comments>
    </item>
    <item>
      <title>rahasia berjalan di atas bara</title>
      <link>http://superone.blogdrive.com/archive/70.html</link>
      <pubDate>Mon, 28 May 2007 05:12:35 GMT</pubDate>
      <description>Walaupun belum bisa dikatakan selesai, tapi kini gue bisa lebih bernafas lega karena skripsi gue dah menemui titik terang, Dari 6 tahapan proses penerapan komputasi numerik gue tinggal menyelesaikan satu tahapan lagi yaitu pemrograman. Sebenarnya pemrograman adalah tahapan yang keempat, yaitu setelah penentuan masalah, pemodelan dan penyususan algoritma. Sedangkan dua tahapan yang terakhir adalah simulasi dan menghitung error yang keduanya sudah gue lakukan berdasarkan pemodelan dan algorritma yang dah gue susun&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mudah-mudahan minggu ini programnya dah beres, sehingga gue bisa simulasikan secepatnya dengan komputer, kalo emang hasilnya sama dengan hasil simulasi yang gue lakukan dengan hitung-hitungan diatas kertas berarti sudah tidak ada masalah lagi sehingga gue bisa ngajuin sidang deh. Do'ain ya, semoga awal juli nanti gue dah bisa memperoleh gelar sarjana &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ada informasi menarik nih yang gue dapet sewaktu  mencari referensi  skripsi di internet, yaitu tentang &lt;a href=&quot;http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0608/14/174724.htm&quot;&gt;rahasia berjalan di atas bara&lt;/a&gt;. Awalnya gue berfikir rahasianya ada di otak kita karena 'ritual' berjalan diatas api ini atau istilah kerennya, &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Fire-walking&quot;&gt;fire-walking&lt;/a&gt; pada awalnya dijadikan sebagai simulasi dalam pelatihan &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Neuro-linguistic_programming&quot;&gt;NLP&lt;/a&gt; (Neuro Linguistic Programming), yaitu bagaimana mengubah persepsi diri melalui visualisasi baru di otak sehingga mengubah reaksi tubuh terhadap realita. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Waktu itu gue berasumsi kita tidak akan merasakan panas pada kaki kita kalo dalam otak kita tidak pernah berpikir bara itu panas, anggap saja seperti berjalan di atas tanah. Nyatanya memang benar. Waktu pertama kali mencoba gue masih sedikit merasanakan panas karena waktu itu belum yakin kalo baranya tidak panas. Namun untuk percobaan kedua, gue sama sekali tidak merasanakan panas di kaki, padahal saat itu baranya terlihat lebih membara.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Namun asumsi itu kini terbantah karena ternyata rahasianya terletak pada bahan baku dari bara yang digunakan, yaitu kayu. Mengapa kayu? Karena kayu adalah benda yang bersifat isolator atau pengantar panas yang buruk, sehingga walaupun kayu sedang membara, ia tidak akan cepat-cepat melepaskan energi panasnya ke kaki kita. Itulah sebabnya simulasi fire-walking ini tidak pernah dilakukan dengan bara dari besi. Sebab, besi adalah konduktor atau pengantar panas yang baik&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jangankan berjalan diatas besi panas, kesenggol knalpot aja langsung melepuh tuh kulit... he...he...&lt;br&gt;&lt;br&gt;thaks ya...&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/127158/img/?url=http%3A%2F%2Fsuperone.blogdrive.com%2Farchive%2F70.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://superone.blogdrive.com/comments?id=70</comments>
    </item>
  </channel>
</rss>
